Jumat, 31 Januari 2014

MAKALAH TEORI INTRAKSIONISME SIMBOLIK


BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Masyarakat bukanlah sesuatu yang statis “di luar sana” yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita, namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. Individu bukan hanya memiliki pikiran (mind), namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis, namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial. Selain itu, keseluruhan proses interaksi tersebut bersifat simbolik, di mana makna-makna dibentuk oleh akal budi manusia.

Interaksi manusia dimediasi oleh penggunaan simbol-simbol, oleh interpretasi, atau oleh penetapan makna dari tindakan orang lain. Mediasi ini ekuivalen dengan pelibatan proses interpretasi antara stimulus dan respon dalam kasus perilaku manusia. Pendekatan interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatan-pendekatan teoritis lainnya. Pendekatan interaksionisme simbolik berkembang dari sebuah perhatian ke arah dengan bahasa; namun Mead mengembangkan hal itu dalam arah yang berbeda dan cukup unik. Pendekatan interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut adalah virtual.

Interaksi merupakan proses timbal balik, di mana suatu kelompok dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain. Dengan demikian, ia memengaruhi tingkah laku orang lain. Seseorang memengaruhi tingkah laku orang lain melalui kontak. Kontak dapat berupa kontak fisik langsung maupun tidak langsung. Suatu interaksi social tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat:



1.       Adanya kontak sosial

2.        Adanya komunikasi.

Semua interaksi antar individu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol. Ketika kita berinteraksi dengan yang lainnya, kita secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Interaksionisme simbolik mengarahkan perhatian kita pada interaksi antarindividu, dan bagaimana hal ini bisa dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu.

Dengan mengetahui interaksionisme simbolik sebagai teori maka kita akan bisa memahami fenomena sosial lebih luas melalui pencermatan individu. Ada tiga premis utama dalam teori interaksionisme simbolis ini, yakni manusia bertindak berdasarkan makna-makna; makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain; makna tersebut berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut berlangsung.

B.      Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan yaitu sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Sosiologi Peternakan, untuk mengetahui lebih jauh mengenai Teori Interaksionisme Simbolik, dan untuk menambah wawasan bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.









BAB II

PEMBAHASAN



A.     Pengertian Teori Intraksionisme Simbolik

Teori Interaksionalisme simbolik (symbolic interactionism) adalah pendekatan teoritis dalam memahami hubungan antara manusia dan masyarakat. Ide dasar teori interaksionisme simbolik adalah bahwa tindakan dan interaksi manusia hanya dapat dipahami melalui pertukaran symbol atau komunikasi yang sarat makna.

Teori interaksionisme simbolik mulai berkembang pada pertengahan abad ke-20. interaksionisme simbolik berakar dari dua kata yang bermakna berbeda, yaitu interaksi dan simbol. Simbolik mengandung pengertian pada makna yang terdapat pada situasi sosial tertentu di mana pelaku berada di dalamnya, sedangkan interaksionis mengandung arti makna tersebut dibentuk oleh interaksi di antara pelaku.

Teori interaksionisme simbolik beranggapan bahwa masyarakat (manusia) adalah produk sosial. Teori ini mempunyai metodologi yang khusus, karena interaksionisme simbolik melihat makna sebagai bagian fundamental dalam interaksi masyarakat. Dalam penelitian mengenai interaksi dalam masyarakat tersebut, teori interaksionisme simbolik cenderung menggunakan metode kualitatif dibanding metode kuantitatif.

Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain.

Seperti yang dikatakan Francis Abraham dalam Modern Sociological Theory (1982)[1], bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang bersifat sosial-psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis. Teori ini akan berurusan dengan struktur-struktur sosial, bentuk-bentuk kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan, interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial. Interaksi sendiri dianggap sebagai unit analisis: sementara sikap-sikap diletakkan menjadi latar belakang.

B.      Pendapat Para Ahli Mengenai Teori Interaksionisme Simbolik

Tokoh teori interaksi simbolik antara lain : George Herbert Mend, Herbert Blumer, Charles Horton Cooley. Teori interaksi simbolik menyatakan bahwa interaksi sosial adalah interaksi symbol. Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol yang lain memberi makna atas simbol tersebut.

a.      GEORGE HERBERT MEAD (1863-1931)

Pengertian berfikir Mead adalah suatu proses dimana individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan menggunakan simbol-simbol yang bermakna. Menurut Mead tertib masyarakat akan tercipta apabila ada interaksi dan komunikasi melalui simbol-simbol. Dalam buku Mind Set and Society, Mead memperkenalkan konsep diri dengan menyebut bahwa diri dapat bersifat sebagai objek maupun subjek sekaligus menjadi objek yaitu:

Ø  Merupakan objek bagi dirinya sendiri

Ø  Diri merupakan karakteristik manusia yang membedakan manusia dengan hewan.

Ø  Menjadikan manusia mampu mencapai kesadaran diri sehingga seseorang dapat mengambil sikap yang impersonal dan objektif.

Mead menjelaskan bahwa ada empat tahap yang masing-masing dari tahap tersebut saling berkaitan satu sama lain dalam setiap perbuatan.

1.      Impuls adalah tahap paling awal dalam keempat tahap diatas. Dia adalah reaksi yang paling awal dimana dia berfungsi untuk dirinya sendiri. Impuls melibatkan stimulasi inderawi secara langsung dimana respon yang diberikan oleh actor adalah bertujuan untuk kebutuhan dirinya sendiri. Contohnya adalah ketika seseorang mempunyai keinginan untuk menonton film di bioskop.

2.      Persepsi adalah tahapan kedua, dimana dia adalah pertimbangan, bayangan maupun pikiran terhadap bagaimana cara untuk bisa memenuhi impuls. Dalam tahapan ini, actor memberikan respon atau bereaksi terhadap stimulus yang berkaitan dengan impuls tadi. Misal, berkaitan dengan contoh impul diatas, ketika seseorang ingin menonton film di bioskop, maka dia akan mencari

3.      Manipulasi adalah tahapan selanjutnya yang masih berhubungan dengan tahap-tahap sebelum. Dalam tahapan ini actor mengambil tindakan yang berkaitan dengan obyek yang telah dipersepsikan. Bagi Mead, tahapan ini menciptakan jeda temporer dalam proses tersebut, sehingga suatu respon tidak secara langsung dapat terwujud.

4.      Konsumsi adalah upaya terakhir untuk merespon impuls. Dalam tahapan ini, dengan adanya pertimbangan maupun pemikiran secara sadar, actor dapat mengambil keputusan atau tindakan yang umumnya akan berorientasi untuk memuaskan impuls yang ada di awal tadi.

Mead mengklaim bahwa bahasa memungkinkan kita untuk menjadi makhluk yang self-conscious [yang sadar akan individualitasnya] dan unsur kunci dalam proses itu adalah simbol. Inti pemikiran Mead dalam teori interaksionisme simbolik adalah bahwa manusia memiliki dunianya sendiri dimana ia mampu menjadi subjek sekaligus objek bagi dirinya sendiri. Sehingga ia mampu melakukan tindakan yang sesuai dengan keinginannya sendiri.

Tindakan dan alur berfikir Mead memandang tindakan merupakan inti dari teorinya dengan memusatkan pada proses terjadinya tindakan akibat rangsangan dan tanggapan. Bahasa mempunyai fungsi yang signifikan yaitu menggerakkan tanggapan yang sama pada pihak rangsang dan respon.

Pemikiran George Herbert Mead dipengaruhi oleh Max Weber dengan teorinya tentang Interaksi dan Tindakan. Max Weber dalam teori ini mengemukakan bahwa masyarakat hanya merupakan satu nama yang menunjuk pada sekumpulan individu, dan menurut Max Weber konsep fakta social seperti struktur social, kelompok social dll yang lebih dari sekedar individu dan perilakunya, dianggap sebagai abstraksi spekulatif tanpa dasar empiric, sehingga Max Weber menginterpretasikan individu dan tindakannya sebagai satuan dasar atau sebagai “otorinya”.

Max Weber mengemukakan bahwa antara individu yang satu dengan individu yang lain berinteraksi satu sama lain diwujudkan dengan adanya suatu tindakan maupun perilaku. Namun tidak semua tindakan ataupun perilaku individu adalah suatu manifestasi yang rasional. Rasionalitas hadir dalam diri seorang individu dengan terlebih dahulu melewati proses pemikiran, dimana makna dari sebuah pemikiran adalah sesuatu yang penting dalam mengerti manusia dimana pemilikan karakter – karakter ini membuat esensi berbeda dengan perilaku binatang. Dan Max Weber membuat klasifikasi tentang tipe – tipe tindakan social dengan menggunakan konsep dasar “rasionalitas” yaitu ada tindakan yang rasional dan non rasional. Menurut Weber, tindakan rasional dihubungkan dengan kesadaran dan pilihan bagaimana tindakan tersebut direalisasikan. Rasionalitas yang dikemukakan oleh Max Weber lebih dibawa ke ranak suatu lembaga atau structural, meskipun selanjutkan rasionalitas yang dikembangkan Mead berdasar dari konsep Weber ini lebih dibawa ke ranah individu dan lingkungan sosialnya.



b.      CHARLES HORTON COOLEY (1864-1929)

Konsep penting dalam bangunan teori Cooley adalah konsep cermin diri [looking-glass self] dan kelompok primer, dimana dalam individu senantiasa terjadi suatu proses yang ditandai dengan 3 tahap terpisah yaitu:

Ø  Persepsi, dalam tahap ini kita membayangkan bagaimana orang melihat kita.

Ø  Interpretasi dan definisi, disini kitamembayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita.

Ø  Respon, berdasarkan persepsi dan interpretasi idividu tersebut menyusun respon terhadap rspon kita.

Kelompok primer dianggap penting oleh Cooley sebab:

Ø  Kelompok ini memiliki pengaruh yang sangat mendasar dan merupakan tempat pembentukan watak diri.

Ø  Kelompok ini merupakan utama dalam hubungan anatr ias dengan masyarakat yang lebih luas.

Ø  Kelompok memberikan kepada individu pengalaman tentang kesatuan iasl yang paling awal dan paling lengkap dan juga dalam pengertian bahwa kelompok ini tidak mengalami perubahan derajat yang sama seperti pada hubungan yang luas tetapi merupakan sumber yang dari mana struktur iasl itu muncul.

c.       HERBERT BLUMMER

Individu dalam interaksionisme simbolik Blumer dapat dilihat dalam 3 premis yang diajukan:

Ø  Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada sesuatu itu pada mereka.

Ø  Makna tersebut berasal dari interaksi dengan orang lain.

Ø  Makna-makna tersebut disempurnakan pada saat proses interaksi berlangsung.

Interaksionisme simbolik, kata Blumer dalam interaksi aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan dari ornag lain tetapi mencoba menafsirka dan mendefinikan setiap tindakan orang lain. Dalam melakukan interaksi secara langsung maupun tidak langsung indivudu dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran yaitu bahasa. Konsep Blumer dikenal dengan self-indication yaitu proses komunikasi yang sedang berjalan dimana individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna itu.
Inti pemikiran Blumer mengenai interaksionisme simbolik dapat disadur dari kajian Poloma 1984 sebagai berikut:

Ø  Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi.

Ø  Interaksi terdiri dari kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. Interaksi non simbolis mencakup stimulus respon yang sederhana. Interaksionisme simbolis mencakuppenafsiran tindakan.

Ø  Objek-objek yang tidak mempunyai makna yang intrinsik, makna lebih merupakan produk interaksi simbolik. Objek dapat dikategorikan ke 3 kategori luas yaitu : objek fisikseperti meja dan kursi, objek sosial seperti guru, dan objek abstrak seperti nilai.

Ø  Manisia tidak hanya mengenal objek eksternal, mereka dapat mengenal dan melihat dirinya sebagai objek.

Ø  Tindakan manusia adalah tindalan interpretatif yang dibuat oleh manusia.

Ø  Tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggotan kelompok.



C.      Prinsip Dasar Pembentukan Teori Interaksionisme Simbolik

Dasar pembentukan teori ini adalah filsafat pragmatis dan behaviorisme sosial. Ada 3 hal penting dalam interaksionisme simbolik menurut filsafat pragmatis :

1.      Memusatkan perhatian pada interaksi antar aktor dan dunia nyata.

2.      Memandang baik aktor maupun dunia nyata sebagai proses dinamis dan bukan struktur yang statis.

3.      Arti penting yang menghububgkan kepada kemampuan aktor untuk menafsirkan kehidupan sosial.

           Sedangkan pemikiran behavorisme sosial lebih kearah perilaku individu yang diamati.
Teori ini memiliki subtansi yaitu kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antar individual dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses dan memberikan tanggapan terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya dan dari luar dirinya. Subtansi dari teori ini dikemukakan oleh Arnold Rose [dalam buku Ritzer 2003:54]:

a.   Manusia berada dalam lingkungan simbol-simbol memberikan tanggapan terhadap simbol itu yang berupa fisik manusia memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan simbol-simbol secara verbal melalui pemakaian bahasa serta memahami makna dabalik simbol itu.

b.   Melalui simbol manusia berkemampuan menstimulir orang lain.

c.    Melalui komunikasi simbol dapat dipelajari arti dan nilai-nalai serta tindakan orang lain begitu pula pengetahuan simbol dalam komunikasi dalam mempelajari simbol.

d.   Simbol, makna, serta nilai yang berhubungan dengan mereka tidak hanya terfikirkan oleh mereka dalam bagian-bagian terpisah tetapi selalu dalam bentuk kelompok yang kadang-kadang luas dan komplek.

e.   Berfikir merupakan suatu proses pencarian kemungkinan yang bersifat simbolis dan untuk mempelajari tindakan-tindakan yang akan datang, menafsir keuntungan dan kerugian relatif menurut penilaian individual, dimana satu diantaranya dipilih untuk dilakukan.

Menurut teori ini, konsep tentang masyarakat, lembaga social, maupun Negara hanyalah konseptual saja dalam arti hanyalah istilah akademik. Hal yang penting dalam sosiologi adalah interaksi antarindividu dan lingkungan dimana mereka berada.

Simbol-simbol ini sebagian besar berupa kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Kata tidak lain hanyalah sekedar bunyi dan belum mempunyai arti tertentu yang melekat pada kata itu sendiri. Kata atau bunyi tertentu tersebut baru memiliki arti setelah masyarakat atau sekelompok orang sepakat memberikan arti dari kata atau bunyi tersebut. Bunyi dan tulisannya sama, tetapi jika berada pada masyarakat yang berbeda akan memberikan arti atau makna yang berbeda. Misalnya, kencot untuk masyarakat Banyumas berarti lapar sedangkan untuk masyarakat Kedu berarti terinjak, jika di Yogyakarta sebagai sebutan kesenian tradisional masyarakat.

Tak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berpikir kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial dalam interaksi sosial, manusia mempelajari arti dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir mereka. Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan dan berinteraksi. Manusia mampu mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka terhadap situasi. Manusia mampu membuat kebijakan modofikasi dan perubahan, sebagian karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka menguji serangkaian tindakan, menilai keuntungan dan kerugian, dan kemudia memilih satu di antara serangkaian peluang tindakan itu. Pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan membentuk kelompok dan masyarakat. Ada beberapa factor yang mempengarhi terjadinya interaksi dalam suatu masyarakat, yaitu :

1.      Kapasitas berfikir

Individu tak dilihat sebagai unit yang dimotivasi oleh kekuatan eksternal dan internal di luar kontrol mereka tetapi lebih dipandang sebagai cerminan dari unit-unit yang saling berinteraksi di dalam masyarakat. Cerminan ini terdapat dalam pikiran individu. Pikiran bukanlah benda (otak) tapi lebih melihatnya sebagai proses yang berkelanjutan dari stimuli dan respon. Pikiran berhubungan dengan aspek sosialisasi, arti, simbol, diri, interaksi dan masyarakat.

2.      Berfikir dan Berinteraksi

Manusia memiliki kapasitas umum untuk berpikir yang harus dibentuk dan diperhalus dalam proses interaksi sosial (sosialisasi). Sosialisasi dipahami sebagai proses dinamis yang memungkinkan manusia mengembangkan kemampuan berpikir, untuk mengembangkan cara hidup manusia sendiri. Sosialisasi bukan proses satu arah dimana aktor menerima informasi, melainkan merupakan proses dinamis dimana aktor menyusun dan menyesuaikan informasi dengan kebutuhan mereka sendiri. Ada tiga jenis obyek dalam interaksi: obyek fisik seperti batu atau pohon, obyek sosial seperti mahasiswa dan obyek abstrak seperti gagasan. Manusia memperlakukan obyek itu bukan sekedar sebagai sesuatu yang berada di luar sana tetapi sebagai sesuatu yang ia maknai dalam pikiran. Obyek yang sama bisa jadi memiliki makna berbeda bagi individu yang berbeda.

3.      Aksi dan Interaksi

Tindakan sosial dimaknai sebagai tanggapan individu terhadap orang lain di dalam pikirannya sendiri. Interaksi sosial dimaknai sebagai proses mengkomunikasikan arti terhadap orang lain yang terlibat dlam interaksi. Di dalam interaksi sosial, para aktor terlibat dalam proses saling mempengaruhi.




BAB  III

PENUTUP





A.               Kesimpulan

ü  Tokoh teori interaksi simbolik antara lain : George Herbert Mend, Herbert Blumer, Charles Horton Cooley.

ü  Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol yang lain memberi makna atas simbol tersebut.

B.               Saran

Agar tercipta proses interaksi yang baik sebaiknya semua interaksi antar individu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol.



DAFTAR  PUSTAKA



Jacon, T. 1993. Faktor-Faktor Interaksi Simbolik. Citra Umbara: Bandung

Jasi, M. 2000. Interaksi Simbolik. PT. Raja Grafindo: Jakarta

Kartono, H. 2003. Teori Interaksi. PT. Gramedia: Jakarta




Tidak ada komentar:

Posting Komentar