BAB
I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Pengajaran
bahasa dapat berhasil dengan baik apabila terdapat pengetahuan yang cukup
terhadap sifat-sifat dan perilaku pembelajar. Dalam suatu proses belajar
mengajar, selalu ada pembelajar yang berhasil dengan baik dan pembelajar yang
kurang berhasil. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor; salah satunya adalah
cara belajar orang yang belajar tersebut. Dalam hal ini, semua bentuk
peng-ajaran bahasa dapat dikembangkan dengan baik apabila kita memiliki
pengetahuan yang cukup tentang pembelajar dan tentang proses belajar mengajar
itu sendiri. Dengan demikian, pengetahuan mengenai sifat-sifat pembelajar akan
dapat membantu dalam memfasilitasi kegiatan belajar mengajar sehingga
pembelajar dapat mencapai hasil yang maksimal. Sebagai jawaban dari
permasalahan pada proses pembelajaran, diperlukan suatu strategi pembelajaran
yang tepat. Strategi ini akan menjadi golden
eye dalam pencapaian proses pembelajaran. Ada banyak strategi yang dapat
digunakan, salah satunya adalah strategi Metakognitif, efektif, dan social.
Strategi tersebut yang akan menjadi focus pada pembahasan makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan strategi
metakognitif dalam pembelajaran?
2. Apakah yang dimaksud dengan strategi
afektif dalam pembelajaran?
3. Apakah yang dimaksud dengan strategi
social dalam pembelajaran?
C.
Tujuan Penulisan
Untuk
mengetahui lebih detail strategi metakognitif, afektif, dan social dalam
pembelajaran.
D.
Manfaat Penulisan
1. Bagi penulis: dapat membantu mengetahui dan mengembangkan
konsep strategi pembelajaran bahasa.
2. Bagi guru: dapat membantu mengetahui wawasan tentang
strategi pembelajaran bahasa, yang kemudian bisa diterapkan secara langsung
dalam proses pembelajaran pada siswa di kelas.
3. Bagi pemerhati pendidikan: dapat menjadi referensi
tambahan terhadap karya-karya tulisnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. STRATEGI
PEMBELAJARAN
Michel Pressley (1991) mengatakan strategi pembelajaran bahasa ialah
operator-operator kognitif yang memproses suatu masalah pembelajaran bahasa
yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan tugas. Artinya, strategi
pembelelajaran bahasa ialah perilaku dan proses-proses berfikir—termasuk proses
memori dan metakognitif—yang dilakukan oleh siswa yang dapat mempengaruhi
terhadap apa yang dipelajari sehingga dengan strategi pembelajaran bahasa siswa
dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik dan benar.
Sebagai contoh, siswa sering ditugasi untuk mengerjakan
tugas-tugas belajar tertentu, seperti mengisi suatu lembar kerja dalam
pelajaran membaca atau mencari bahan sumebr untuk suatu laporan sejarah. Untuk
menyelesaikan tugas-tugas belajar tersebut siswa memerlukan keterlibatan dalam
proses-proses berfikir dan melakukan perilaku-perilaku tertentu, sperti membaca
sepintas judul-judul utama, meringkas, dan membuat catatan, disamping itu juga
memonitor jalan berfikir diri sendiri. Dengan demikian agar dapat menyelesaikan
tugas-tugas belajar tersebut siswa harus menggunakan beberapa strategi belajar.
Menurut Oxford (1990:8), strategi belajar adalah suatu
cara yang digunakan pembelajar dalam pemerolehan, penyimpanan, percobaan, dan
pemanfaatan atas informasi yang didapat. Ditambahkan pula bahwa strategi
belajar merupakan suatu aktifitas yang dapat membuat proses pembelajaran
menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih menyenangkan, lebih terarah, lebih
efektif, dan lebih mudah untuk digunakan dalam situasi baru.
Strategi pembelajaran bahasa ialah semua siasat,
kebijaksanaan, atau rencana untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa (Suardi
Saparani, dkk, 1997: 22). Bahkan suyatno (2004: 14) mengatakan bahwa
keberhasilan pembelajaran—disiplin ilmu apa pun—ditentukan oleh strategi
pembelajaran yang digunakan.
Thomas dan Rohwer (1986) berpendapat tentang prinsip
strategi pembelajaran. Seperangkat prinsip pembelajaran tersebut ialah:
- kekhususan: strategi-strategi belajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tipe siswa yang mempergunakan strategi belajar tersebut. Sebagai contoh, penelitian telah menemukan bahwa strategi pembelajaran yang sama memberikan hasil belajar yang berbeda jika diterapkan pada siswa yang lebih tua dan siswa yang lebih muda atau diterapkan pada siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai (Hidi dan Anderson, 1986).
- Keumuman: salah satu prinsip utama dari strategi belajar efektif ialah strategi-strategi tersebut melibatkan pengolahan kembali materi yang dipelajari, untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Misalnya, menulis ringkasan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk orang lain, mengorganisasikan catatan dalam bentuk kerangka, membuat suatu diagram hubungan antara ide-ide utama, dan mengajar teman sendiri tentang isi bacaan. Strategi dengan tingkat keumuman rendah misalnya ialah menggarisbawahi kata-kata tanpa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak, membuat catatan tanpa mengidentifikasi ide-ide pokok, atau menulis ringkasan secara luas tanpa dapat memfokuskan pada hal-hal yang penting, kurang berhasil untuk membantu siswa belajar.
- Pemantauan yang efektif: prinsip monitoring yang efektif berarti bahwa siswa seharusnya mengetahui bagaimana dan kapan menerapkan strategi belajarnya dan bagaimana mengatakan bahwa ia sedang bekerja dengan strategi itu (Nist: 1991).
- Keyakinan pribadi: siswa harus memiliki keyakinan bahwa belajar akan memberikan hasil bagi mereka apabila mereka bekerja keras untuk pelajaran itu. Guru dapat menciptakan suatu pengertian bahwa belajar akan memberikan tes untuk pelajaran itu. Guru dapat menciptakan suatu pengertian bahwa belajar akan memberikan hasil dengan cara sering memberikan kuis dan tes langsung berdasarkan pada bahan ajar yang dipelajari siswa dan dengan membuat kinerja pada penelitian ini menjadi bagian utama dalam menentukan nilai siswa.
Berdasarkan target yang akan dicapai, Strategi
pembelajaran bahasa—kususnya belajar bahasa kedua, ketiga, atau belajar bahasa
lanjutan—terbagi atas dua jenis, yakni: strategi pembelajaran bahasa langsung
dan strategi pembelajaran bahasa tidak langsung. Strategi pembelajaran bahasa
secara langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi memori, strategi
kognitif, dan strategi kompensasi. Dan Strategi pembelajaran bahasa secara
tidak langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi metakognitif, strategi
affektif, dan strategi sosial.
B. METAKOGNITIF
Strategi
metakognisi adalah strategi tidak langsung belajar bahasa kedua. Strategi ini
menekankan akan pentingnya pembelajar untuk memusatkan konsentrasi belajar
bahasa, menyusun dan merencanakan belajar bahasa, dan mengevaluasi cara belajar
bahasa tersebut. Terkadang, pembelajar sibuk dengan materi belajar saja tanpa
menyadari bahwa strategi belajarnya seharusnya diubah atau diperbaiki dengan
melihat hasil kemajuan belajarnya. Dengan strategi metakogisi ini, pembelajar
akan menyadari bahwa strategi belajar bahasanya sudah tepat atau belum. Dalam
hal ini pembelajar dapat mengevaluasi sendiri atau dapat berkonsultasi dengan
guru atau mentor dalam mengevaluasi hasil belajarnya.
Strategi metakognitif berhubungan dengan berfikir siswa dengan berfikirnya
sendiri dan kemampuannya untuk memonitor proses-proses kognitif. Strategi
metakognitif meliputi dua-duanya, yaitu pengetahuan tentang kognisi dan
kemampuan memonitor, mengendalikan, dan mengevaluasi fungsi-fungsi kognitif
diri sendiri.
Berikut ini prosedur sistem kerja strategi metakognitif: (1) memusatkan
belajar yang meliputi: (a) mengulas materi baru dan menghubungkan dengan materi
yang sudah dikuasai, (b) memberi perhatian terhadap pokok bahasan, dan (c)
menunda percakapan atau obrolan dengan orang lain untuk memusatkan pikiran
terfokus pada pokok bahasan, (2) mengatur dan merencanakan belajar yang
meliputi: (a) mencari tahu tentang pembelajaran bahasa, (b) mengatur, (c)
menentukan tujuan, mengidentifikasi tujuan pembelajaran bahasa (tujuan
mendengar/ membaca/ menulis/ berbicara), (e) merencanakan untuk tugas bahasa,
dan (f) mencari kesempatan latihan, (3) mengevaluasi belajar yang meliputi: (a)
memonitor atau mengewasi diri, dan (b) mengevaluasi diri terhadap porses dan
hasil belajar.
C.
AFEKTIF
Strategi affektif ialah Strategi kedua dari strategi belajar bahasa secara
tidak langsung. Strategi belajar ini mencakup emosi, sikap, motivasi, dan nilai
–nilai dalam proses mempelajari bahasa kedua. Terdapat beberapa cara yang dapat
ditempuh oleh pembelajar untuk mencapai hasil yang memuaskan dalam belajar
bahasa kedua. Menurut Oxford (1990:141) terdapat tiga cara dalam memanfaatkan
strategi afektif ini dalam belajar bahasa kedua, yaitu dengan mengurangi
kecemasan dengan cara mendengarkan musik, tertawa, dan meditasi setelah belajar
bahasa kedua; meningkatkan kepercayaan diri dengan membuat pernyataan
–pernyataan positif, menghargai diri sendiri dalam belajar bahasa kedua;
mengatur suhu emosi sendiri dengan berdiskusi dengan rekan ketika mempunyai
masalah, berusaha untuk mendengarkan suara tubuh ketika sudah terlalu capek
dalam belajar bahasa kedua.
Berikut prosedur sistem kerja strategi affektif: (1) menurunkan kegelisahan
yang meliputi: (a) menggunakan relaksasi, (b) mendengarkan musik, (c)
tertawa-tawa, (2) menyemangati diri sendiri yang meliputi: (a) membuat
pernyataan positif, (b) mengambil resiko dengan bijak, (c) menghargai diri
sendiri, (3) mengontrol temperatur emosi yang meliputi: (a) mendengarkan
gerakan tubuh, (b) membuat daftar kegiatan atau perencanaan, (c) menulis diari
pembelajaran bahasa, dan (d) mendiskusikan perasaan dengan orang lain (curhat).
D.
SOSIAL
Stategi sosial ialah strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung
bahwa peserta didik telah terjun ke dunia sosial. Tanpa disadari, peserta didik
telah melakukan kegiatan belajar bahasa kepada orang lain melalui kegitan
sosial. Sebagaimana prinsip strategi pembelajaran di atas sebagai berikut bahwa
peserta didik melakukan suatu aktivitas belajar bahasa kedua atau bahasa target
dengan penuh menyenangkan dan efektif dalam kondisi baru. Peserta didik akan
mendapatkan dua kemampuan saat melakukan strategi sosial: (a) kemampuan belajar
bahasa, dan (2) kemampuan bersosial.
Berikut prosedur sistem kerja strategi sosial: (1) menanyakan pertanyaan
yang meliputi: (a) menanyakan klarifikasi dan verivikasi, (b) menanyakan
pembeltulan, (2) bekerja sama dengan orang lain yang meliputi: (a) bekerjasama
dengan kawan sebaya, dan (b) bekerja sama dengan pemakai bahasa yang sudah
cerdas atau mahir, (3) memiliki rasa empati kepada orang lain yang meliputi:
(a) mengembangkan pemahaman budaya, dan (b) hati-hati dengan lidah dan perasaan
orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Sugiarso.
2004. Strategi Pembelajaran
Kognitivistik: Kajian Teoritik dan Temuan Empirik. Surabaya: Reksa Budaya.
Susan,
E., Israel, Kathryn, L.,Bauserman, Block, C. C. Tanpa Tahun. Metacognitve Assessment Strategies, (Online),
(http://www.ctnet/rcwt.consortium, diakses 11 Maret 2006).
Susantini,
E. 2004. Memperbaiki Kualitas Proses
Belajar Genetika melalui Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran Kooperatif
pada Siswa SMU. Disertasi tidak diterbitkan. Malang. Program Pascasarjana
Universitas Negeri Malang.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Strategi
pembelajaran bahasa ialah suatu cara yang digunakan pembelajar dalam
pemerolehan, penyimpanan, percobaan, dan pemanfaatan atas informasi yang didapat.
Ditambahkan pula bahwa strategi belajar merupakan suatu aktifitas yang dapat
membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih
menyenangkan, lebih terarah, lebih efektif, dan lebih mudah untuk digunakan
dalam situasi baru (Oxford, 1990:8),.
Strategi pembelajaran bahasa ialah semua siasat,
kebijaksanaan, atau rencana untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa (Suardi
Saparani, dkk, 1997: 22). Bahkan suyatno (2004: 14) mengatakan bahwa
keberhasilan pembelajaran—disiplin ilmu apa pun—ditentukan oleh strategi
pembelajaran yang digunakan.
Berdasarkan target yang akan dicapai, Strategi
pembelajaran bahasa—kususnya belajar bahasa kedua, ketiga, atau belajar bahasa
lanjutan—terbagi atas dua jenis, yakni: strategi pembelajaran bahasa langsung dan
strategi pembelajaran bahasa tidak langsung. Strategi pembelajaran bahasa
secara langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi memori, strategi
kognitif, dan strategi kompensasi. Dan Strategi pembelajaran bahasa secara
tidak langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi metakognitif, strategi
affektif, dan strategi sosial.
. Strategi kognitif ialah strategi untuk memahami bahasa
dan menghasilkan atau melakukan produksi bahasa. Strategi belajar kompensasi
ialah strategi menerka kata atau tata bahasa dengan menggunakan bantuan, bahasa
tubuh, menghindari topik pembicaraan yang tidak dikuasai, dan juga dapat
menggunakan persamaan kata. Strategi metakognitig ialah strategi yang
menekankan akan pentingnya pembelajar untuk memusatkan konsentrasi belajar bahasa,
menyusun dan merencanakan belajar bahasa, dan mengevaluasi cara belajar bahasa
tersebut. Strategi belajar affektif ialah strategi yang mencakup emosi, sikap,
motivasi, dan nilai –nilai dalam proses mempelajari bahasa kedua. Dan Stategi
sosial ialah strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung bahwa peserta
didik telah terjun ke dunia sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar