Rabu, 29 Januari 2014

MAKALAH STRATEGI METAKOGNISI, AFEKTIF, DAN SOSIAL


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Pendahuluan
Pengajaran bahasa dapat berhasil dengan baik apabila terdapat pengetahuan yang cukup terhadap sifat-sifat dan perilaku pembelajar. Dalam suatu proses belajar mengajar, selalu ada pembelajar yang berhasil dengan baik dan pembelajar yang kurang berhasil. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor; salah satunya adalah cara belajar orang yang belajar tersebut. Dalam hal ini, semua bentuk peng-ajaran bahasa dapat dikembangkan dengan baik apabila kita memiliki pengetahuan yang cukup tentang pembelajar dan tentang proses belajar mengajar itu sendiri. Dengan demikian, pengetahuan mengenai sifat-sifat pembelajar akan dapat membantu dalam memfasilitasi kegiatan belajar mengajar sehingga pembelajar dapat mencapai hasil yang maksimal. Sebagai jawaban dari permasalahan pada proses pembelajaran, diperlukan suatu strategi pembelajaran yang tepat. Strategi ini akan menjadi golden eye dalam pencapaian proses pembelajaran. Ada banyak strategi yang dapat digunakan, salah satunya adalah strategi Metakognitif, efektif, dan social. Strategi tersebut yang akan menjadi focus pada pembahasan makalah ini.

B.   Rumusan Masalah
1.    Apakah yang dimaksud dengan strategi metakognitif dalam pembelajaran?
2.    Apakah yang dimaksud dengan strategi afektif dalam pembelajaran?
3.    Apakah yang dimaksud dengan strategi social dalam pembelajaran?

C.   Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui lebih detail strategi metakognitif, afektif, dan social dalam pembelajaran.

D.   Manfaat Penulisan
1.    Bagi penulis: dapat membantu mengetahui dan mengembangkan konsep strategi pembelajaran bahasa.
2.    Bagi guru: dapat membantu mengetahui wawasan tentang strategi pembelajaran bahasa, yang kemudian bisa diterapkan secara langsung dalam proses pembelajaran pada siswa di kelas.
3.    Bagi pemerhati pendidikan: dapat menjadi referensi tambahan terhadap karya-karya tulisnya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.   STRATEGI PEMBELAJARAN
Michel Pressley (1991) mengatakan strategi pembelajaran bahasa ialah operator-operator kognitif yang memproses suatu masalah pembelajaran bahasa yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan tugas. Artinya, strategi pembelelajaran bahasa ialah perilaku dan proses-proses berfikir—termasuk proses memori dan metakognitif—yang dilakukan oleh siswa yang dapat mempengaruhi terhadap apa yang dipelajari sehingga dengan strategi pembelajaran bahasa siswa dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik dan benar.
Sebagai contoh, siswa sering ditugasi untuk mengerjakan tugas-tugas belajar tertentu, seperti mengisi suatu lembar kerja dalam pelajaran membaca atau mencari bahan sumebr untuk suatu laporan sejarah. Untuk menyelesaikan tugas-tugas belajar tersebut siswa memerlukan keterlibatan dalam proses-proses berfikir dan melakukan perilaku-perilaku tertentu, sperti membaca sepintas judul-judul utama, meringkas, dan membuat catatan, disamping itu juga memonitor jalan berfikir diri sendiri. Dengan demikian agar dapat menyelesaikan tugas-tugas belajar tersebut siswa harus menggunakan beberapa strategi belajar.
Menurut Oxford (1990:8), strategi belajar adalah suatu cara yang digunakan pembelajar dalam pemerolehan, penyimpanan, percobaan, dan pemanfaatan atas informasi yang didapat. Ditambahkan pula bahwa strategi belajar merupakan suatu aktifitas yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih menyenangkan, lebih terarah, lebih efektif, dan lebih mudah untuk digunakan dalam situasi baru.
Strategi pembelajaran bahasa ialah semua siasat, kebijaksanaan, atau rencana untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa (Suardi Saparani, dkk, 1997: 22). Bahkan suyatno (2004: 14) mengatakan bahwa keberhasilan pembelajaran—disiplin ilmu apa pun—ditentukan oleh strategi pembelajaran yang digunakan.
Thomas dan Rohwer (1986) berpendapat tentang prinsip strategi pembelajaran. Seperangkat prinsip pembelajaran tersebut ialah:
  1. kekhususan: strategi-strategi belajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tipe siswa yang mempergunakan strategi belajar tersebut. Sebagai contoh, penelitian telah menemukan bahwa strategi pembelajaran yang sama memberikan hasil belajar yang berbeda jika diterapkan pada siswa yang lebih tua dan siswa yang lebih muda atau diterapkan pada siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai (Hidi dan Anderson, 1986).
  2. Keumuman: salah satu prinsip utama dari strategi belajar efektif ialah strategi-strategi tersebut melibatkan pengolahan kembali materi yang dipelajari, untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Misalnya, menulis ringkasan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk orang lain, mengorganisasikan catatan dalam bentuk kerangka, membuat suatu diagram hubungan antara ide-ide utama, dan mengajar teman sendiri tentang isi bacaan. Strategi dengan tingkat keumuman rendah misalnya ialah menggarisbawahi kata-kata tanpa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak, membuat catatan tanpa mengidentifikasi ide-ide pokok, atau menulis ringkasan secara luas tanpa dapat memfokuskan pada hal-hal yang penting, kurang berhasil untuk membantu siswa belajar.
  3. Pemantauan yang efektif: prinsip monitoring yang efektif berarti bahwa siswa seharusnya mengetahui bagaimana dan kapan menerapkan strategi belajarnya dan bagaimana mengatakan bahwa ia sedang bekerja dengan strategi itu (Nist: 1991).
  4. Keyakinan pribadi: siswa harus memiliki keyakinan bahwa belajar akan memberikan hasil bagi mereka apabila mereka bekerja keras untuk pelajaran itu. Guru dapat menciptakan suatu pengertian bahwa belajar akan memberikan tes untuk pelajaran itu. Guru dapat menciptakan suatu pengertian bahwa belajar akan memberikan hasil dengan cara sering memberikan kuis dan tes langsung berdasarkan pada bahan ajar yang dipelajari siswa dan dengan membuat kinerja pada penelitian ini menjadi bagian utama dalam menentukan nilai siswa.
Berdasarkan target yang akan dicapai, Strategi pembelajaran bahasa—kususnya belajar bahasa kedua, ketiga, atau belajar bahasa lanjutan—terbagi atas dua jenis, yakni: strategi pembelajaran bahasa langsung dan strategi pembelajaran bahasa tidak langsung. Strategi pembelajaran bahasa secara langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi memori, strategi kognitif, dan strategi kompensasi. Dan Strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi metakognitif, strategi affektif, dan strategi sosial.

B.   METAKOGNITIF
 Strategi metakognisi adalah strategi tidak langsung belajar bahasa kedua. Strategi ini menekankan akan pentingnya pembelajar untuk memusatkan konsentrasi belajar bahasa, menyusun dan merencanakan belajar bahasa, dan mengevaluasi cara belajar bahasa tersebut. Terkadang, pembelajar sibuk dengan materi belajar saja tanpa menyadari bahwa strategi belajarnya seharusnya diubah atau diperbaiki dengan melihat hasil kemajuan belajarnya. Dengan strategi metakogisi ini, pembelajar akan menyadari bahwa strategi belajar bahasanya sudah tepat atau belum. Dalam hal ini pembelajar dapat mengevaluasi sendiri atau dapat berkonsultasi dengan guru atau mentor dalam mengevaluasi hasil belajarnya.
Strategi metakognitif berhubungan dengan berfikir siswa dengan berfikirnya sendiri dan kemampuannya untuk memonitor proses-proses kognitif. Strategi metakognitif meliputi dua-duanya, yaitu pengetahuan tentang kognisi dan kemampuan memonitor, mengendalikan, dan mengevaluasi fungsi-fungsi kognitif diri sendiri.
Berikut ini prosedur sistem kerja strategi metakognitif: (1) memusatkan belajar yang meliputi: (a) mengulas materi baru dan menghubungkan dengan materi yang sudah dikuasai, (b) memberi perhatian terhadap pokok bahasan, dan (c) menunda percakapan atau obrolan dengan orang lain untuk memusatkan pikiran terfokus pada pokok bahasan, (2) mengatur dan merencanakan belajar yang meliputi: (a) mencari tahu tentang pembelajaran bahasa, (b) mengatur, (c) menentukan tujuan, mengidentifikasi tujuan pembelajaran bahasa (tujuan mendengar/ membaca/ menulis/ berbicara), (e) merencanakan untuk tugas bahasa, dan (f) mencari kesempatan latihan, (3) mengevaluasi belajar yang meliputi: (a) memonitor atau mengewasi diri, dan (b) mengevaluasi diri terhadap porses dan hasil belajar.

C.   AFEKTIF
Strategi affektif ialah Strategi kedua dari strategi belajar bahasa secara tidak langsung. Strategi belajar ini mencakup emosi, sikap, motivasi, dan nilai –nilai dalam proses mempelajari bahasa kedua. Terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh oleh pembelajar untuk mencapai hasil yang memuaskan dalam belajar bahasa kedua. Menurut Oxford (1990:141) terdapat tiga cara dalam memanfaatkan strategi afektif ini dalam belajar bahasa kedua, yaitu dengan mengurangi kecemasan dengan cara mendengarkan musik, tertawa, dan meditasi setelah belajar bahasa kedua; meningkatkan kepercayaan diri dengan membuat pernyataan –pernyataan positif, menghargai diri sendiri dalam belajar bahasa kedua; mengatur suhu emosi sendiri dengan berdiskusi dengan rekan ketika mempunyai masalah, berusaha untuk mendengarkan suara tubuh ketika sudah terlalu capek dalam belajar bahasa kedua.
Berikut prosedur sistem kerja strategi affektif: (1) menurunkan kegelisahan yang meliputi: (a) menggunakan relaksasi, (b) mendengarkan musik, (c) tertawa-tawa, (2) menyemangati diri sendiri yang meliputi: (a) membuat pernyataan positif, (b) mengambil resiko dengan bijak, (c) menghargai diri sendiri, (3) mengontrol temperatur emosi yang meliputi: (a) mendengarkan gerakan tubuh, (b) membuat daftar kegiatan atau perencanaan, (c) menulis diari pembelajaran bahasa, dan (d) mendiskusikan perasaan dengan orang lain (curhat).

D.   SOSIAL
Stategi sosial ialah strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung bahwa peserta didik telah terjun ke dunia sosial. Tanpa disadari, peserta didik telah melakukan kegiatan belajar bahasa kepada orang lain melalui kegitan sosial. Sebagaimana prinsip strategi pembelajaran di atas sebagai berikut bahwa peserta didik melakukan suatu aktivitas belajar bahasa kedua atau bahasa target dengan penuh menyenangkan dan efektif dalam kondisi baru. Peserta didik akan mendapatkan dua kemampuan saat melakukan strategi sosial: (a) kemampuan belajar bahasa, dan (2) kemampuan bersosial.
Berikut prosedur sistem kerja strategi sosial: (1) menanyakan pertanyaan yang meliputi: (a) menanyakan klarifikasi dan verivikasi, (b) menanyakan pembeltulan, (2) bekerja sama dengan orang lain yang meliputi: (a) bekerjasama dengan kawan sebaya, dan (b) bekerja sama dengan pemakai bahasa yang sudah cerdas atau mahir, (3) memiliki rasa empati kepada orang lain yang meliputi: (a) mengembangkan pemahaman budaya, dan (b) hati-hati dengan lidah dan perasaan orang lain.


DAFTAR PUSTAKA

Sugiarso. 2004. Strategi Pembelajaran Kognitivistik: Kajian Teoritik dan Temuan Empirik. Surabaya: Reksa Budaya.
Susan, E., Israel, Kathryn, L.,Bauserman, Block, C. C. Tanpa Tahun. Metacognitve Assessment Strategies, (Online), (http://www.ctnet/rcwt.consortium, diakses 11 Maret 2006).
Susantini, E. 2004. Memperbaiki Kualitas Proses Belajar Genetika melalui Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran Kooperatif pada Siswa SMU. Disertasi tidak diterbitkan. Malang. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
 Strategi pembelajaran bahasa ialah suatu cara yang digunakan pembelajar dalam pemerolehan, penyimpanan, percobaan, dan pemanfaatan atas informasi yang didapat. Ditambahkan pula bahwa strategi belajar merupakan suatu aktifitas yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih menyenangkan, lebih terarah, lebih efektif, dan lebih mudah untuk digunakan dalam situasi baru (Oxford, 1990:8),.
Strategi pembelajaran bahasa ialah semua siasat, kebijaksanaan, atau rencana untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa (Suardi Saparani, dkk, 1997: 22). Bahkan suyatno (2004: 14) mengatakan bahwa keberhasilan pembelajaran—disiplin ilmu apa pun—ditentukan oleh strategi pembelajaran yang digunakan.
Berdasarkan target yang akan dicapai, Strategi pembelajaran bahasa—kususnya belajar bahasa kedua, ketiga, atau belajar bahasa lanjutan—terbagi atas dua jenis, yakni: strategi pembelajaran bahasa langsung dan strategi pembelajaran bahasa tidak langsung. Strategi pembelajaran bahasa secara langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi memori, strategi kognitif, dan strategi kompensasi. Dan Strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi metakognitif, strategi affektif, dan strategi sosial.
. Strategi kognitif ialah strategi untuk memahami bahasa dan menghasilkan atau melakukan produksi bahasa. Strategi belajar kompensasi ialah strategi menerka kata atau tata bahasa dengan menggunakan bantuan, bahasa tubuh, menghindari topik pembicaraan yang tidak dikuasai, dan juga dapat menggunakan persamaan kata. Strategi metakognitig ialah strategi yang menekankan akan pentingnya pembelajar untuk memusatkan konsentrasi belajar bahasa, menyusun dan merencanakan belajar bahasa, dan mengevaluasi cara belajar bahasa tersebut. Strategi belajar affektif ialah strategi yang mencakup emosi, sikap, motivasi, dan nilai –nilai dalam proses mempelajari bahasa kedua. Dan Stategi sosial ialah strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung bahwa peserta didik telah terjun ke dunia sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar