Kamis, 30 Januari 2014

MAKALAH PRAKTEK LAPANG SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN I


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita. Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.
Sosiologi keluarga adalah ilmu yang menjelaskan hubungan antaranggota keluarga melalui suatu pendekatan teori-teori sosial. Sosiologi keluarga juga merupakan suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara anggota keluarga dan keluarga dengan struktur sosial, proses sosial dan perubahan sosial. Disamping membicarakan hubungan antaranggota keluarga, sosiologi juga membicarakan keluarga secara luas, proses pembentukan keluarga (pelamaran dan perkawinan), membina keluarga (hak dan kewajiban suami istri), pendidikan dan pengasuhan anak, dan pengaturan harta apabila seseorang meninggal.
Penjelasan diatas merupakan alasan yang melatarbelakangi diadakannya Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja,  Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
B.       Tujuan Dan Kegunaan
Tujuan diadakannya Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik yaitu untuk mengetahui seberapa besar peranan keluarga khususnya perempuan dalam Usaha Peternakan di Kabupaten Barru, serta mengetahui kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam Usaha Peternakan Itik.
Kegunaan dilaksanakannya Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik adalah untuk melihat dan membandingkan teori yang diperoleh di materi perkuliahan dengan kondisi riil yang terjadi dilapangan mengenai peranan keluarga dalam usaha peternakan itik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.       Tinjauan Umum Peternakan Itik
Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs. Jawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar (Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang dipelihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik) (Kalla, 2008).
Itik ialah nama biasa untuk spesies daripada famili Anatidae dan kelas burung. Itik kebiasaannya ialah burung akuatik, lebih kecil daripada saudaranya iaitu swan dan angsa, dan boleh ditemui di air tawar dan laut. Itik dipelihara untuk daging atau telurnya. Di Malaysia, negeri utama pengeluar telur itik ialah Kedah, Perlis dan Pulau Pinang. Kebanyakan itik mempunyai paruh yang rata dan lebar untuk menyudu. Itik makan berbagai jenis makanan seperti rumput, tumbuhan akuatik, ikan, serangga, amfibia kecil, cacing dan moluska kecil (Anonima, 2010).
Menurut Anonimb (2010), itik  pada tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
1.     Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA;
2.     Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
3.     Itik Ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.
           
Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak) Ciawi, Bogor (Anonimb, 2010).
Menurut Anonimb (2010), manfaat ternak itik adalah :
1.      Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
2.      Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.
3.      Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
4.      Sebagai pengisi kegiatan dimasa pensiun.
5.      Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.
Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar internasional sangat besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada. Dapat dilihat bahwa baru negara Thailand dan Malaysia  yang menjadi negara pengekspor terbesar. Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanjikan untuk dikembangkan secara intensif (Kalla, 2008).
Menurut Kalla (2008), 3 cara untuk memperoleh bibit itik yang baik adalah :
a.         Membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya.
b.         Memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakkannya pada mentok, ayam atau mesin tetas.
c.         Membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat. Ciri DOD (Day Old Duck) yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.
Menurut Kalla (2008), kondisi kandang untuk peternakan itik adalah :
1.         Temperatur kandang ± 39 derajat Celcius.
2.         Kelembaban berkisar antara 60-65%.
3.         Penerangan kandang  diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang.
4.         Bahan tidak perlu yang mahal tetapi kuat dan tahan lama.
Menurut Kalla (2008), model kandang ada 3 jenis :
a.         Kandang untuk DOD ( Day Old Duck) pada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD (Day Old Duck).
b.         Kandang Grower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok.
c.         Kandang layar (untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei (satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi (kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa (masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter.
Bibit DOD (Day Old Duck) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD (Day Old Duck), tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral (Kalla, 2008).
Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5-6 ekor betina (Kalla, 2008).
Menurut Kalla (2008), pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase Stater (umur 0-8 minggu), fase Grower (umur 8-18 minggu), dan fase Layar (umur 18-27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam 4 kelompok :
a.             Umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder).
b.             Umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai.
c.             Umur 21 hari sampai 18 minggu disebar di lantai.
d.            Umur 18-27 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).
Menurut Kalla (2008), dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen. Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga yaitu :
a.             Umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama air minum ditambah vitamin dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
b.             Umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad libitum (terus menerus).
c.             Umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2m x 15cm dan tingginya 10cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.
Menurut Kalla (2008), penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu :
1.         Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan protozoa.
2.         Penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat.
Menurut Kalla (2008), jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:
a.         Penyakit Duck Cholera, Gejala-gejala yang ditimbulkan : Mencret, lumpuh, tinja kuning  kehijauan. Pengendalian : Sanitasi kandang, pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.
b.         Penyakit Salmonellosis, Penyebab : Bakteri typhimurium. Gejala : Pernafasan sesak, mencret. Pengendalian : Sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.
Hasil utama usaha ternak itik petelur adalah telur itik. Hasil tambahan berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga (Kalla, 2008).
Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil atau terbuahi dengan baik oleh itik jantan, sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami) (Kalla, 2008).
B.       Sosiologi Secara Umum
Banyak ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu, seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran. Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh para pemikir di abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina, dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan masyarakatnya. Pertanyaan dan pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa ini. Berkembangnya ilmu pengetahuan di abad pencerahan (sekitar abad ke-17 M), turut berpengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat, ciri-ciri ilmiah mulai tampak di abad ini. Para ahli di zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia (Anonimc, 2010).
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain (Anonimc, 2010).
C.       Pengertian Sosiologi Keluarga
Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial serta perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antarunsur sosial, meliputi kaidah sosial, lembaga sosial, kelompok sosial, dan lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara segi kehidupan bersama, seperti pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dan segi kehidupan politik. Dengan demikian, sosiologi keluarga dapat dirumuskan bahwa suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara anggota keluarga dan keluarga dengan struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial. Dalam pengertian lain, sosiologi keluarga adalah ilmu yang menjelaskan hubungan antaranggota keluarga melalui suatu pendekatan teori-teori sosial. Disamping membicarakan hubungan antaranggota keluarga, sosiologi keluarga juga membicarakan keluarga secara luas, proses pembentukan keluarga (pelamaran dan perkawinan), membina keluarga (hak dan kewajiban suami istri), pendidikan dan pengasuhan anak, dan pengaturan harta apabila eseorang meninggal (Suhendi dan Wahyu, 2001).
Definisi diatas dapat dibedakan dengan sosiologi secara umum. Sosiologi umum bertugas mempelajari masyarakat dalam pengertian luas maka sosiologi keluarga bertugas menerangkan masyarakat keluarga secara khusus. Segala perilaku dalam keluarga bukan hanya dilihat dalam konteks biologis, psikologis atau yang lainnya, melainkan dicarikan arti sosiologinya dengan cara meneliti hubungan-hubungannya, dan dampak yang ditimbulkan dari hubungan tersebut (Suhendi dan Wahyu, 2001).
D.       Fungsi Dan Bentuk-Bentuk Keluarga
Setelah sebuah keluarga terbentuk, anggota keluarga yang ada didalamnya memiliki tugas masing-masing. Suatu pekerjaan yang dilakukan dalam keluarga dalam kehidupan keluarga inilah yang disebut fungsi. Jadi fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan didalam atau diluar keluarga ( Suhendi dan Wahyu, 2001).
Menurut Anonimd (2010), beberapa fungsi keluarga adalah sebagai berikut :
1.         Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.
2.         Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3.         Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
4.         Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5.         Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
6.         Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
7.         Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah dengan cara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dsb.
8.         Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.
9.         Memberikan kasih sayang,perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
Apabila membicarakan keluarga, asosiasinya langsung tertuju pada suami istri, anak-anak mereka, dan ikatan perkawinan dan ikatan darah. Oleh karena itu, istilah yang digunakan untuk menunjuk kelompok orang seperti itu dinamakan konjugal famili yang menunjukkan arti keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Ada pula yang dinamakan dengan hubungan kerabat yang sedarah yang didasarkan pada pertalian darah dari sejumlah orang kerabat dan bukan didasarkan pada pertalian darah dari sejumlah orang kerabat dan bukan didasarkan pada pertalian kehidupan suami istri. Keluarga hubungan sedarah adalah suatu kelompok luas dari saudara sedarah dengan pasangan dan anak-anak mereka (Suhendi dan Wahyu, 2001).
Bentuk keluarga sangat berbeda antara satu dengan masyarakat dan masyarakat yang lainnya. Bentuk disini dapat dilihat dari jumlah angota keluarga, yaitu keluarga batih dan keluarga luas, dilihat dari sistem yang digunakan dalam pengaturan keluarga, dilihat dari sistem yang digunakan, yaitu keluarga pangkal dan keluarga gabungan, dan dilihat dari segi status individu dalam keluarga, yaitu keluarga prokreasi dan keluarga orientasi (Suhendi dan Wahyu, 2001).
Menurut Suhendi dan Wahyu (2001), bentuk-bentuk keluarga adalah sebagai berikut:
1.      Conjugal Family
            Conjugal Family, biasa juga disebut dengan keluarga batih. Keluarga batih (keluarga inti) terdapat pada masyarakat praindustri. Meskipun keluarga lain tidak lepas dari perhatian, tekanan terletak pada hubungan antarkeluarga rumah tangga tempat dia tinggal. Pola keluarganya berupa rumah kecil dengan sedikit anak. Tekanan yang diberikan pada keluarga inti adalah tempat tinggal yang sama dengan dengan jumlah anggota terbatas. Keluarga inti dibedakan dengan keluarga konjugal. Keluarga konjugal terlihat lebih otonom, dalam arti tidak memiliki keterikatan secara ketat dengan keluarga luas, sedangkan keluarga inti tidak memiliki otonomi karena memiliki ikatan garis keturunan, baik patrilineal maupun matrilineal (Suhendi dan Wahyu, 2001).

 2.      Keluarga Luas (Extended Family)
      Yaitu keluarga yang terdiri dari semua orang yang berketurunan dari kakek dan nenek yang sama termasuk keturunan masing-masing suami dan istri. Dengan kata lain, keluarga luas adalah keluarga batih ditambah kerabat lain yang memiliki hubungan erat dan senantiasa dipertahankan. Sebutan keluarga yang diperluas digunakan bagi suatu sistem yang masyarakatnya menginginkan beberapa generasi yang hidup dalam satu atap rumah tangga. Ada beberapa keuntungan keluarga luas. Pertama, keluarga luas banyak ditemukan di desa-desa dan bukan pada daerah industri. Kedua, keluarga luas mampu mengumpulkan modal ekonomi secara besar (Suhendi dan Wahyu, 2001).
3.      Keluarga pangkal
            Keluarga pangkal yaitu sejenis keluarga yang menggunakan sistem pewarisan kekayaan pada satu anak yang paling tua. Keluarga pangkal ini banyak terdapat di Eropa zaman feodal. Para petani imigran AS dan di zaman Tokugawa Jepang. Pada masa tersebut seorang anak yang paling tua bertanggung jawab terhadap adiknya yang perempuan sampai ia menikah, begitu pula terhadap saudara laki-laki yang lainnya. Dengan demikian, pada jenis keluarga ini pemusatan kekayaan hanya pada satu orang (Suhendi dan Wahyu, 2001).
4.      Keluarga Gabungan
            Keluarga gabungan yaitu keluarga yang terdiri dari orang-orang yang berhak atas milik keluarga, antara lain saudara laki-laki pada setiap generasi. Disini, tekanannya hanya pada saudara laki-laki karena menurut adat Hindu, anak laki-laki sejak kelahirannya mempunyai hak atas kekayaan keluarganya (Suhendi dan Wahyu, 2001).
5.      Keluarga Prokreasi dan Keluarga Orientasi
            Keluarga prokreasi adalah sebuah keluarga yang individunya merupakan orang tua. Adapun orientasinya adalah keluarga yang individunya merupakan salah seorang keturunan. Ikatan perkawinan merupakan dasar bagi terbentuknya suatu keluarga baru sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Namun demikian, perkawinan ini tidak dengan sendirinya menjadi sarana bagi penerimaan anggota dalam keluarga asal (orientasi). Hubungan suami istri dengan keluarga orientasinya sangatlah kuat dan erat (Suhendi dan Wahyu, 2001).
E.       Masalah Sosial Dalam Keluarga
Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam keluarga dengan realitas yang ada. Adanya masalah sosial dalam keluarga ditetapkan oleh anggota keluarga yang memiliki kewenangan khusus (Anonime, 2010).
Menurut Anonime (2010), masalah sosial dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yaitu antara lain :
1.         Faktor Ekonomi         : Kemiskinan, pengangguran, dan lain-lain
2.         Faktor Budaya           : Perceraian, kenakalan remaja, dan lain-lain
3.         Faktor Biologis           : Penyakit menular, keracunan makanan, dan lain-lain
4.         Faktor Psikologis        : Penyakit saraf, aliran sesat, dan lain-lain
Antara faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya saling mempengaruhi satu sama lain. Jika masalah sosial berasal dari faktor biologis, maka akan berdampak pula pada psikologis dan sosial budaya. Misalnya saja : penyakit menular (Biologis) yang dialami seorang istri dapat berpengaruh pada perceraian (Budaya) dalam keluarganya. Selain itu akan menyebabkan stress (Psikologi) (Anonime, 2010).
F.        Karakteristik Keluarga Tani Ternak
Sistem usaha tani terintegrasi antara tanaman dan ternak telah lama dilakukan oleh rumah tangga petani di Indonesia, terutama di pedesaan. Umumnya rumah tangga petani menggunakan persediaan makanannya untuk mencukupi konsumsi sendiri dan selebihnya dijual. Karakteristik yang dijumpai pada petani tersebut adalah melakukan usaha tani campuran dalam upaya mendapatkan keuntungan yang maksimal dan meminimalkan risiko (Soedjana, 2007).
Menurut Soedjana (2007), ada empat model penerapan sistem usaha tani campuran, yaitu:
1)        sistem yang dipraktekkan secara alami dan turun-temurun oleh petani setempat,
2)        sistem usaha tani tanpa melibatkan ternak,
3)        sistem usaha tani ternak,
4)        sistem usaha yang berbasis pada sumber daya lahan, tenaga kerja, dan modal.
Masing-masing sistem usaha tani tersebut memiliki risiko dan ketidakpastian usaha di masa yang akan datang. Beberapa risiko mendasar pada sistem usaha tani adalah risiko produksi, risiko usaha dan finansial, serta risiko kerusakan. Dari risiko mendasar tersebut, dengan menggunakan perhitungan sistem fungsional, usaha tani terintegrasi tanaman-ternak mempunyai peluang risiko yang minimal (Soedjana, 2007).
G.      Struktur Pendapatan Dan Pengeluaran Keluarga Tani Ternak
Struktur pendapatan rumah tangga di pedesaan bervariasi tergantung pada keragaman sumberdaya pertanian. Keragaman sumberdaya mempengaruhi struktur pendapatan rumah tangga pedesaan. Sumber pendapatan rumah tangga di suatu lokasi erat kaitannya dengan agroekosistem lokasi tersebut. Pendapatan rumah tangga pedesaan sangat bervariasi. Variasi itu tidak hanya disebabkan oleh faktor potensi daerah, tetapi juga karakteristik rumah tangga. Aksesibiltias ke daerah perkotaan yang merupakan pusat kegiatan ekonomi seringkali merupakan faktor dominan terhadap variasi struktur pendapatan rumah tangga pedesaan. Secara garis besar ada dua sumber pendapatan rumah tangga pedesaan yaitu sektor pertanian dan non-pertanian. Struktur dan besarnya pendapatan dari sektor pertanian berasal dari usahatani/ternak dan berburuh tani. Sedangkan dari sektor nonpertanian berasal dari usaha nonpertanian, profesional, buruh nonpertanian dan pekerjaan lainnya di sektor nonpertanian (Supadi dan Nurmanaf, 2010).
Menurut Soekardono (2009), sebagai dasar analisis pendapatan dari suatu usaha tani, termasuk usaha peternakan, perlu dipahami pengertian-pengertian dari berbagai konsep pendapatan usaha tani, yaitu :
1.      Pendapatan Kotor Usahatani
   Pendapatan kotor usahatani adalah nilai produksi total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Pendapatan kotor usahatani tanaman dapat meliputi produk yang :
a.       Dijual
b.      Dikonsumsi rumah tangga petani
c.       Digunakan dalam usahatani untuk bibit atau makanan ternak
d.      Digunakan untuk pembayaran
e.       Disimpan atau ada di gudang pada akhir tahun
Untuk menghindari perhitungan ganda, maka semua produk yang dihasilkan sebelum tahun pembukuan tetapi dijual atau digunakan atau masih disimpan pada saat tahun pembukuan, tidak dimasukkan kedalam pendapatan kotor.
Pada usaha peternakan, perhitungan pendapatan kotor lebih kompleks daripada usahatani tanaman pangan, karena variabel-variabel yang menentukan produksi dan pendapatan usaha peternakan yang lebih kompleks. Pada usaha petenakan dapat terjadi perubahan-perubahan yang relatif fleksibel terhadap jumlah ternak yang dipelihara dalam satu periode pembukuan dengan menjual atau membeli.
Pendapatan kotor usaha peternakan dalam suatu pembukuan dapat terdiri dari:
1.         Penjualan ternak (+)
2.         Nilai ternak yang digunakan untuk konsumsi rumah tangga, pembayaran, upah, dan atau hadiah (+)
3.         Nilai ternak pada akhir tahun pembukuan (+)
4.         Nilai hasil ternak seperti susu, telur, wool, dan kotoran ternak (+)
5.         Pembelian ternak (-)
6.         Nilai ternak pada awal tahun pembukuan (-)
7.         Nilai ternak yang diperoleh dari pembayaran, upah, dan atau hadiah (-)

2.      Pendapatan Bersih Usahatani
Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara pendapatan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Pengeluaran total usahatani adalah nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam proses produksi. Untuk usaha non-komersial, tenaga kerja keluarga petani tidak dimasukkan dalam pengeluaran. Pengeluaran mencakup pengeluaran tunai dan tidak tunai.
3.      Penghasilan Bersih Usahatani
Penghasilan bersih usahatani adalah selisih antara pendapatan bersih usahatani dan bunga modal pinjaman. Dengan demikian, ukuran ini menggambarkan penghasilan yang diperoleh dari usahatani untuk keperluan keluarga dan merupakan imbalan terhadap semua sumberdaya yang dimiliki keluarga yang dipakai dalam usahatani.
4.      Penghasilan Keluarga
Penghasilan keluarga adalah jumlah dari penghasilan bersih usahatani dan pendapatan rumah tangga yang berasal dari luar usahatani. Sumber pendapatan diluar usahatani dapat terdiri dari dagang, buruh, industri rumah tangga, dan sebagainya. Penghasilan ini menunjukkan tingkat kesejahteraan keluarga petani.
5.      Imbalan kepada Seluruh Modal
Didalam usahatani semi-komersial, imbalan kepada modal merupakan patokan yang baik untuk penampilan suatu usaha tani. Imbalan kepada seluruh modal dihitung dengan mengurangkan nilai kerja keluarga dari pendapatan bersih usahatani. Nilai tenaga kerja dihitung menurut tingkat upah yang berlaku.

6.      Imbalan kepada Modal Petani
Imbalan kepada modal petani adalah selisih antara penghasilan bersih usahatani dan nilai kerja keluarga. Nilai imbalan tersebut dinyatakan dalam persen terhadap nilai modal sendiri, tidak termasuk modal pinjaman.
7.      Imbalan kepada Tenaga Kerja Keluarga
Imbalan kepada tenaga kerja keluarga dapat dihitung dari penghasilan bersih usahatani dikurangi dengan bunga modal petani yang diperhitungkan. Ukuran ini dapat dibagi dengan jumlah anggota keluarga yang bekerja dalam usahatani untuk memperoleh taksiran imbalan kepada tiap orang.
H.       Tinjauan Umum Tentang Gender
Gender dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksi secara sosial, dalam suatu masyarakat (Anonimf, 2010).
Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis, walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Ilmu bahasa (linguistik) juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. Banyak bahasa, yang terkenal dari rumpun bahasa Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab), mengenal kata benda "maskulin" dan "feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral"). Dalam konsep gender, yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat, sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. Sebagai ilustrasi, sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin (Anonimf, 2010).
I.          Perbedaan Gender Dan Lahirnya Ketidakadilan
Laki-laki berbeda dari perempuan yang akan tampak jelas. Mereka berbeda dalam kecerdasan, keterampilan dan perilaku, tetapi kemudian, begitu juga setiap individu. Jadi, mengapa kita membuat semacam ribut tentang hal itu ? Rasanya tidak masuk akal untuk menyarankan bahwa jenis kelamin berbeda karena otak mereka berbeda, tetapi kemudian tidak ada dua otak manusia adalah sama. Disarankan bahwa budaya kita dalam kesulitan karena banyak wanita telah dibesarkan untuk percaya bahwa mereka harus sama baik sebagai laki-laki (Hambar, 2003).
Kami hanya akan menyentuh pada topik ini sebentar. Ada cukup bahan untuk selusin buku. Cukup dengan mengatakan bahwa semua laporan penelitian dalam perjalanan anak laki-laki dan anak perempuan, bukan bagaimana mereka bisa menjadi seperti itu. Atau lebih tepatnya bagaimana mereka pada saat penelitian. Kesamaan antar budaya dan spesies mengesankan adanya dasar biologis. Kenyataan bahwa situasi berubah mencerminkan kekuatan sosialisasi. Stereotip lain, bahwa anak perempuan lebih ramah, lebih banyak perhatian, lebih tunduk dan memiliki harga diri rendah, sulit untuk dipertahankan. Satu yang pasti tampaknya telah menghilang selama dua dekade terakhir adalah bahwa anak perempuan kurang motivasi untuk mencapai (Hambar, 2003).
Menurut Anonimg (2010), perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih tinggi dikenal dengan perbedaan gender yang terjadi di masyarakat tidak menjadi suatu permasalahan sepanjang perbedaan tersebut tidakmengakibatkan diskriminasi atau ketidakadilan. Patokan  atau ukuran sederhana yang dapat digunakan untukmengukur apakah perbedaan gender itu menimbulkan ketidakadilan atau tidak adalah sebagai berikut:
1.             Sterotype
Semua bentuk ketidakadilan gender diatas sebenarnya berpangkal pada satu sumber kekeliruan yang sama, yaitu stereotype gender laki-laki dan perempuan. Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label/cap kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat.
Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya. Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang  yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain. Pelabelan negatif juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun seringkali pelabelan negatif ditimpakan kepada perempuan.
Contoh :
  • Perempuan dianggap cengeng, suka digoda.
  • Perempuan tidak rasional, emosional.
  • Perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting.
  • Perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah tambahan.
  • Laki-laki sebagai pencari nafkah utama.
2.             Kekerasan
Kekerasan (violence) artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan.
Contoh :
  • Kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya di dalam rumah tangga.
  • Pemukulan, penyiksaan dan perkosaan yang mengakibatkan perasaan tersiksa dan tertekan.
  • Pelecehan seksual.
  • Eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi.
3.             Beban ganda (double burden)
Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda. 
4.             Marjinalisasi
Marjinalisasi artinya suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan. Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seseorang atau kelompok. Salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender. Misalnya dengan anggapan bahwa perempuan berfungsi sebagai pencari nafkah tambahan, maka ketika mereka bekerja diluar rumah (sector public), seringkali dinilai dengan anggapan tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka sebenarnya telah berlangsung proses pemiskinan dengan alasan gender.
Contoh :
  • Guru TK, perawat, pekerja konveksi, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dinilai sebagai pekerja rendah, sehingga berpengaruh pada tingkat gaji/upah yang diterima.
  • Masih banyaknya pekerja perempuan dipabrik yang rentan terhadap PHK dikarenakan tidak mempunyai ikatan formal dari perusahaan tempat bekerja karena alasan-alasan gender, seperti  sebagai pencari nafkah tambahan, pekerja sambilan dan juga alasan factor reproduksinya, seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.
  • Perubahan dari sistem pertanian tradisional kepada sistem pertanian modern dengan menggunakan mesin-mesin traktor telah memarjinalkan pekerja perempuan,

5.             Subordinasi
Subordinasi artinya suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Telah diketahui, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan public atau produksi.
Pertanyaannya adalah, apakah peran dan fungsi dalam urusan domestic dan reproduksi mendapat penghargaan yang sama dengan peran publik dan produksi? Jika jawabannya “tidak sama”, maka itu berarti peran dan fungsi public laki-laki. Sepanjang penghargaan social terhadap peran domestic dan reproduksi berbeda dengan peran publik dan reproduksi, sepanjang itu pula ketidakadilan masih berlangsung.
Contoh :
  • Masih sedikitnya jumlah perempuan yang bekerja pada posisi atau peran pengambil keputusan atau penentu kebijakan disbanding laki-laki.
  • Dalam pengupahan, perempuan yang menikah dianggap sebagai lajang, karena mendapat nafkah dari suami dan terkadang terkena potongan pajak.
  • Masih sedikitnya jumlah keterwakilan perempuan dalam dunia politik (anggota legislative dan eksekutif ).
J.         Perempuan Dalam Perspektif Budaya Dan Agama
Perempuan seolah takkan pernah berhenti untuk dibicarakan, diselami dunianya, baik yang bersifat lahiriahnya: kecantikan maupun gaya hidup mulai dari tidur hingga bangunnya terus dikuak, maupun yang bersifat batiniah, jiwanya: olah rasa atau hal lainnya. Perempuan memang asyik untuk dikaji. Makhluk Tuhan yang satu ini seolah harta atau khazanah yang mengundang decak kagum maupun sunggingan bibir yang mencoba mencemoohnya. Entah itu perempuan sendiri, lebih-lebih pria takkan luput untuk trambul ngomong, entah paham betul atau hanya waton ngomong, yang penting ngomong perempuan. Meskipun tak jelas apa yang diomongkan (Anwar, 2009).
Wanita juga merupakan makhluk yang menarik untuk dibicarakan dan dibahas. Kemenarikan bahasan dan pembicaraan wanita nampak pada beragamnya tema-tema bahasan wanita, dari persoalan pribadi wanita yang dapat menjadi zinah (perhiasan) sebagaimana sebaliknya bisa menjadi fitnah (bencana), sampai persoalan peran dan fungsi sosial wanita di luar rumah. Semuanya adalah bahasan yang dibicarakan dalam permasalahan wanita, sejatinya dilakukan secara cermat dan teliti, tanpa gegabah yang dapat menyebabkan kesalahan persepsi terhadap persoalan ini. Persepsi tentang wanita yang bijak adalah persepsi yang tidak condong kepada pengekangan terhadap wanita karena sikap-sikap yang kaku terhadap teks-teks agama, sebaliknya tidak pula memberikan persepsi yang liberal yang cenderung mempersepsikan kebebasan tanpa batas dan kaidah-kaidah agama yang diangkat dan dibahas oleh para ulama (Shomad, 2010).
Dalam pandangan agama, wanita sama saja dengan laki-laki. Sehingga tidak perlu dan tidak benar jika ada istilah emansipasi wanita, karena emansipasi wanita itu diperlukan ketika tidak ada kesetaraan. Sementara dalam Agama Kesetaraan laki-laki dan perempuan itu sudah diakui dan dijamin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Namun satu hal yang perlu di catat, meskipun sudah sederajat dengan laki-laki, hak kaum hawa dan kaum adam tetap punya perbedaan secara fitrah (Gunawan, 2009).

K.      Peranan Perempuan Desa
Wanita ideal dalam versi masyarakat tradisional adalah menjadi bagian sistem kebudayaan kolot yang menempatkan wanita sebagai komponen rumah tangga yang berperan sebagai "teman bagi pria". Sebagai teman, dirinya tidak boleh menonjol, apalagi menjadi pemeran utama, yaitu pria. Kalaupun para wanita harus mencari nafkah, itu semata karena kondisi yang memaksa. Itu hanya sekunder. Idealnya, di mata para kaum tradisionalis, wanita itu sebaiknya tetap di rumah, mengurus suami dan anak. Wanita tidak boleh terlalu terpesona oleh tawaran modernisme dan kapitalisme yang dapat memberinya peran dalam mekanisme kebudayaan tersebut (Hesty, 2009).
Perempuan pedesaan, merupakan sumber daya manusia yang cukup nyata berpartisipasi, khususnya dalam memenuhi fungsi ekonomi keluarga dan rumah tangga bersama dengan laki-laki. Perempuan di pedesaan sudah diketahui secara umum tidak hanya mengurusi rumah tangga sehari-hari saja, tetapi tenaga dan pikirannya juga terlibat dalam berbagai kegiatan usaha tani dan non usaha tani, baik yang sifatnya komersial maupun sosial. Keterlibatan perempuan di pedesaan dalam kegiatan ekonomi produktif antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi, yaitu tidak tercukupinya kebutuhan rumah tangga mereka. Sebagai ibu rumah tangga, biasanya perempuan yang bertanggung jawab dalam mengatur rumah tangga, baik menyangkut kesehatan gizi keluarga, pendidikan anak, dan pengaturan pengeluaran biaya hidup keluarga. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak tercukupi, maka perempuan yang pertama merasakan dampaknya. Sehingga dengan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi produktif setidaknya sebagian kebutuhan keluarga mereka terpenuhi. Demikian juga masalah Kesenjangan gender antara laki-laki dan perempuan dalam pembangunan belum terpikirkan oleh para pembuat keputusan di desa (Anonimh, 2010).
L.       Peranan Perempuan Kini (Modern)
Citra ideal wanita Indonesia masa kini memang belum ada pembakuan yang pasti. Dengan kata lain, citra ideal yang muncul masih sangat beragam, tumpang tindih, bahkan simpang siur. Tidak ada keseragaman dan kesepakatan konseptual ikhwal citra ideal wanita zaman modern ini. Yang terjadi adalah bahwa para wanita menjalani peran sosialnya secara improvisatoris. Tak jarang, mengikuti pola-pola yang sedang dominan dan menjadi acuan banyak orang. Hal ini tentu saja sekadar reaksi dari tiadanya pembakuan citra ideal wanita masa kini. Semuanya serba reaktif, dan tanpa perencanaan yang jelas, untuk tidak menyebut ngawur (Hesty, 2009).
Di kota-kota besar misalnya, peran ideal wanita yang dibangun secara sosial adalah menjadi bagian dari peran-peran modernisasi dan ekonomisasi. Dengan kata lain, wanita akan disebut ideal jika dia berkarier akibat dibentuk oleh atmosfir kebudayaan kota yang dipengaruhi oleh nilai-nilai modernisme dan kapitalisme. Hal itu jelas berbeda dengan konsepsi ideal di kawasan kota-kota kecil atau di pedesaan. Pandangan kuno yang menyebutkan peran wanita konco wingking (teman di belakang) masih dominan dan menjadi acuan tunggal bagi wanita yang lahir, tumbuh, dan besar di kawasan ini. Bagi mereka, menjadi wanita ideal adalah menjadi wanita yang tidak terlalu berpikir serius soal pekerjaan, karier, dan sejenisnya (Hesty, 2009).
Menurut Nasir (2010), ciri-ciri perempuan yang mempunyai kemandirian ini sangat terlihat karena memiliki :
1.           Kompetensi diri,
2.           Konsistensi,
3.           Kreativitas,
4.           Komitmen, dan
5.           Adanya kendali diri.
Jadi dengan kualitas pribadi yang baik, maka perempuan akan lebih menyadari dan memahami dirinya, mampu mengarahkan dirinya, dan mewujudkan dirinya tanpa kehilangan kodratnya dan Insya Allah mampu berbicara banyak dalam membangun pembangunan pertanian bangsa ini, serta bagaimanapun tantangan era-globalisasi yang kita hadapi kita tidak  akan terlibas (Nasir, 2010).
            Keterlibatan perempuan modern dalam kegiatan ekonomi produktif antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi, yaitu tidak tercukupinya kebutuhan rumah tangga mereka. Sebagai ibu rumah tangga, biasanya perempuan yang bertanggung jawab dalam mengatur rumah tangga, baik menyangkut kesehatan gizi keluarga, pendidikan anak, dan pengaturan pengeluaran biaya hidup keluarga. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak tercukupi, maka perempuan yang pertama merasakan dampaknya. Sehingga dengan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi produktif setidaknya sebagian kebutuhan keluarga mereka terpenuhi. Demikian juga masalah kesenjangan gender antara laki-laki dan perempuan dalam pembangunan belum terpikirkan oleh para pembuat keputusan (Anonimh, 2010).



BAB III
METODE PRAKTEK LAPANG



A.       Waktu dan Tempat
Kegiatan praktek lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik, dilaksanakan mulai tanggal 9-11 April 2010 di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

B.       Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan pada praktek lapang ini adalah :
a.         Data  Kualitatif, merupakan serangkaian informasi yang digali dari hasil penelitian masih merupakan fakta-fakta verbal, atau berupa keterangan-keterangan saja.
b.         Data  Kuantitatif, merupakan data statistik berbentuk angka-angka, baik secara langsung digali dari hasil penelitian maupun hasil pengolahan data kualitatif menjadi data kuantitatif.
Sumber data yang digunakan pada praktek lapang ini adalah :
1.         Data Primer, yakni data mentah yang diperoleh peneliti dari lapagan yang dikumpulkan dari beberapa responden. Adapun cara yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut adalah dengan cara kuisioner dan wawancara dengan sejumlah pertanyaan yang diberikan kepada responden, baik secara lisan maupun tulisan.
2.         Data Sekunder, yakni data yang bersumber dari hasil telaah dokumen, buku dan laporan-laporan, serta kepustakaan yang terkait dengan praktek ini.

C.       Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada praktek lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik ini adalah:
a.         Kuisioner, yaitu metode pengumpulan data dengan cara melibatkan partisipan untuk memperoleh informasi secara langsung dari mengisi selebaran yang berisi pertanyaan seputar penelitian terhadap objek yang akan diamati.
b.         Observasi, yaitu salah satu teknik operasional pengumpulan data melalui proses pencatatan secara cermat dan sistematis terhadap objek yang diamati secara langsung.
c.         Wawancara, yaitu metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung atau wawancara langsung dengan responden yang akan dijadikan narasumber dalam praktek lapang ini.
d.        Kepustakaan, yaitu pengambilan data yang diperoleh melalui buku-buku atau literatur yang dijadikan referensi utamanya dalam praktek lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai karajteristik keluarga tani ternak.
 D.       Konsep Operasional
*         Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
*         Sosiologi keluarga adalah ilmu yang menjelaskan hubungan antaranggota keluarga melalui suatu pendekatan teori-teori sosial.
*         Gender dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat.
*         Agama adalah suatu kepercayaan yang mengajarkan manusia untuk selalu mengarah kepada kebajikan.
*         Penghasilan adalah hal-hal yang diperoleh dari pekerjaan yang telah dikerjakan dan biasanya berupa uang.
*         Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keuntungan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
*         Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.
*         Disorganisasi keluarga adalah pecahnya suatu unit keluarga, terputus atau retaknya peran sosial jika satu atau beberapa orang anggotanya gagal menjalankan kewajiban dan peran mereka.
*         Struktur pendapatan pada usaha peternakan terdiri atas: (1) pendapatan dari usaha tani (on-farm income) pada lahan garapan, (2) pendapatan dari buruhtani atau jasa pertanian lainnya (off-farm income), dan (3) pendapatan dari luar sektor pertanian (nonagricultural income).
*         Struktur pengeluaran juga merupakan indikator kesejahteraan yang sama pentingnya dengan indikator lainnya pada rumah tangga contoh.
*         Karakteristik yang dijumpai pada petani tersebut adalah melakukan usaha tani campuran dalam upaya mendapatkan keuntungan yang maksimal dan meminimalkan risiko.
 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

I.         HASIL
A.       Keadaan Umum Lokasi Praktek
1.         Batas, Letak, dan Luas Wilayah Geografis
Letak geografis Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, dibatasi oleh wilayah sebagai berikut :
a.      Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Balusu, Desa Balusu
b.     Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kiru-Kiru
c.      Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pacekke dan Kabupaten Soppeng
d.     Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
Secara geografis Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru memilikii luas wilayah 2277,09 Ha, yang terdiri dari 4 dusun dan 9 RT.

2.         Potensi Desa dan Pemanfaatan Lahan
Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru memiliki potensi dan kekayaan yang cukup besar untuk digarap dan dimanfaatkan secara baik, khususnya sektor pertanian. Kondisi ini terlihat dari luas wilayah desa Ajjakkang 2277,09 Ha yang memiliki potensi sebagai berikut :

Tabel 1. Potensi Desa dan Pemanfaatan Lahan Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru
No
Jenis Lahan
Luas (Ha)
Persentase (%)


1
Tanah Sawah
389
17,08%

2
Tanah Kering
393,5
17,28%

3
Tanah Basah
6,95
0,31%

4
Perkebunan
245,8
10,79%

5
Tanah Fasilitas Umum
-
0%

6
Tanah Hutan
1.216,54
53,43%

7
Lainnya
25,3
1,11%

JUMLAH
2277,09
100%


Sumber: Data Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010

Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa dari 2277,09 Ha luas wilayah Dusun Latappareng, Desa Ajjakkanng, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, tahan hutan merupakan yang terluas yaitu sekitar 1.216,54 Ha dengan persentase 53,43%, sedangkan yang terendah yaitu tanah fasilitas umum dengan persentase 0%. Hal ini dikarenakan keadaan geografis Desa Ajjakkang yang dikelilingi hutan dan pegunungan sehingga sebagian besar wilayahnya tanah hutan sedangkan untuk pemanfaatan tanah fasilitas umum memang tidak memungkinkan untuk dilakukan di Desa Ajjakkang.

3.         Sarana dan Prasarana
a.         Sarana
Sarana adalah segala sesuatu yang yang dapat yang dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Sarana yang terdapat di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat, dapat dilihat pada Tabel 2 berikut :
Tabel 2. Jenis Sarana yang terdapat di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru
No
Sarana
Frekuensi
Persentase (%)


1
Transportasi Darat
15
57,69%

2
Transportasi Sungai Laut
3
11,53%

3
Kesehatan
8
30,76%

JUMLAH
26
100%


Sumber: Data Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010

Dari Tabel 2, diketahui bahwa persentase tertinggi yaitu sarana transportasi darat dengan persentase 57,69% sedangkan untuk persentase terendah yaitu pada sarana transportasi sungai laut dengan persentase 11,53%. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya perdagangan atau pemasaran hasil pertanian maupun peternakan yang dipasarkan melalui laut atau sungai. Kebanyakan masyarakat masih menggunakan sarana di darat untuk memasarkan hasil pertanian maupun peternakan mereka. Selain itu, penggunaan kendaraan sungai laut masih kurang sehingga persentasenya juga rendah.

b.        Prasarana
Prasarana adalah segala yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses. Prasarana yang terdapat di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru yang dimanfaatkan penduduk setempat, dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini :
Tabel 3. Jenis Prasarana yang terdapat di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru
No
Prasarana
Frekuensi
Persentase (%)


1
Transportasi Darat
15
1,375%

2
Komunikasi
620
16,41%

3
Air Bersih
1476
39,07%

4
Irigasi
709
18,77%

5
Pemerintah
96
2,54%

6
Peribadatan
5
0,13%

7
Olahraga
4
0,106

8
Kesehatan
3
0,08%

9
Pendidikan
19
0,503%

10
Penerangan
779
10,62%

JUMLAH
3777
100%


Sumber: Data Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 3, diketahui bahwa persentase tertinggi yaitu pada prasarana air bersih dengan persentase 39,07% sedangkan untuk persentase terendah yaitu pada prasarana kesehatan dengan persentase 0,08%. Hal ini disebabkan karena air bersih telah terkoordinasi dengan baik. Sedangkan prasarana kesehatan karena masih kurangnya pendidikan mengenai kesehatan yang dimiliki oleh masyarakat setempat.
4.     Keadaan Penduduk
a.     Keadaan Penduduk Berdasarkan Umur
Umur atau usia dapat diartikan sebagai satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk yang hidup maupun tak hidup. Berdasarkan data sekunder, keadaan penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan umur dapat digambarkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Keadaan Penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Umur
No
Umur
Frekuensi
Persentase (%)


1
<1
47
1,758%

2
1-10
556
20,8%

3
11-20
632
23,65%

4
21-30
564
21,1%

5
31-40
366
13,7%

6
41-50
318
11,9%

7
>50
189
7,07%

JUMLAH
2672
100%


Sumber: Data Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 4, mengenai keadaan penduduk berdasarkan umur di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka diperoleh persentase umur tertinggi pada kisaran 11-20 tahun yaitu 23,65% sedangkan persentase umur terendah pada kisaran <1 tahun yaitu 1,758%. Hal ini disebabkan karena pada usia 11-20 tahun masih sanggup bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka.

b.     Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Pokok
Mata pencaharian merupakan kegiatan yang dilakukan memenuhi kebutuhan hidup. Berdasarkan data sekunder keadaan penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan mata pencaharian pokok digambarkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Keadaan Penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Mata Pencaharian Pokok
No
Mata Pencaharian
Frekuensi
Persentase (%)


1
Petani
720
59,93%

2
Pegawai
125
19,70%

3
Buruh/Swasta
30
2,56%

4
Pegawai Negeri
162
13,86%

5
Pedagang
40
3,42%

6
Peternak
50
4,28%

7
Nelayan
60
5,13%

8
Montir
1
0,08%

JUMLAH
1168
100%


Sumber: Data Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 5, mengenai keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian pokok di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka diperoleh persentase tertinggi yaitu petani dengan persentase 59,93% sedangkan persentase terendah yaitu montir dengan persentase 0,08%. Hal ini disebabkan karena lahan di daerah ini sangat kondusif untuk digunakan sebagai lahan pertanian.



c.      Keadaan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin biasa disebut seks untuk istilah biologi, membagi manusia dalam 2 golongan besar yaitu pria dan wanita. Dimana pria dan wanita mempunyai ciri-ciri yang berbeda antar keduanya dan merupakan perbedaan yang mendasar juga bagi keduanya. Berdasarkan data sekunder, keadaan penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan jenis kelamin dapat digambarkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Keadaan Penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Jenis Kelamin
No
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase (%)


1
Laki-Laki
1303
48,673%

2
Perempuan
1374
51,326%

JUMLAH
2677
100%


Sumber: Data Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 6, mengenai keadaan penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka diperoleh data jenis kelamin tertinggi yaitu pada perempuan yang frekuensinya 1374 orang dengan persentase 51,326% sedangkan data jenis kelamin terendah pada laki-laki yang frekuensinya 1303 orang dengan persentase 48,673%. Hal ini dikarenakan kebanyakan laki-laki merantau keluar daerah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga. Untuk perempuan, dikarenakan kurangnya pendidikan yang diperoleh sehingga untuk menggunakan tenaga saja tidak mungkin. Inilah yang menyebabkan persentase perempuan lebih banyak di Desa Ajjakkang.
d.     Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah suatu jenjang/tingkatan pengajaran yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai pengetahuan/derajat yang tinggi. Berdasarkan data sekunder mengenai keadaan penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Keadaan Penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Tingkat Pendidikan
No
Tingkat Pendidikan
Frekuensi
Persentase (%)


1
Belum Sekolah
260
8,93%

2
Usia 7-15 thn tidak pernah sekolah
180
6,18%

3
Pernah Sekolah SD tidak tamat
190
6,52%

4
SD/Sederajat
723
24,8%

5
SLTP/Sederajat
486
16,68%

6
SLTA/Sederajat
620
21,29%

7
D-1
177
6,078%

8
D-2
56
1,923%

9
D-3
60
2,066%

10
S-1
160
5,494%

JUMLAH
2912
100%


Sumber: Data Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 7, mengenai keadaan penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka kita dapat memperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu hanya tamat SD/Sederajat dengan persentase 24,8% sedangkan persentase terendah yaitu D-2 dengan persentase 1,923%. Hal ini dikarenakan tingkat kesadaran masyarakat yang masih sangat rendah serta kurangnya dana untuk biaya pendidikan.

B.       Keadaan Khusus Lokasi Praktek
1.         Identifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Umur
Umur merupakan satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk yang hidup maupun tak hidup. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10 responden, maka identifikasi responden berdasarkan tingkat umur di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat digambarkan dalam Tabel 8.
Tabel 8. Keadaan Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Tingkat Umur
No
Umur
Frekuensi
Persentase (%)


1
15-20
2
20%

2
21-25
-
-

3
26-30
2
20%

4
31-35
3
30%

5
36-40
-
-

6
41-45
-
-

7
46-50
-
-

8
51-55
-
-

9
56-60
1
10%

10
61-65
1
10%

11
66-70
1
10%

JUMLAH
10
100%


Sumber: Data Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.
Dari Tabel 8, mengenai keadaan penduduk berdasarkan tingkat umur di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka kita dapat memperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu umur 31-35 tahun dengan persentase 30% sedangkan persentase terendah yaitu umur 56-60, 61-65, dan 66-70 yang persentasenya masing-masing 10%. Hal ini dikarenakan faktor  tenaga dari kisaran usia tersebut yang masih mampu bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. Serta masih kurangnya pendidikan yang membuat mereka harus bekerja keras seperti bertani atau beternak.
2.         Identifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah suatu jenjang/tingkatan pengajaran yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai pengetahuan/derajat yang tinggi. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10 responden, maka identifikasi responden berdasarkan tingkat pendidikan di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat digambarkan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Keadaan Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Tingkat Pendidikan
No
Pendidikan
Frekuensi
Persentase (%)


1
SD/Sederajat
4
40%

2
SMP/Sederajat
4
40%

3
SMA/Sederajat
2
20%

JUMLAH
10
100%


Sumber: Data Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010


Dari Tabel 9, mengenai keadaan penduduk berdasarkan tingkat umur di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka kita dapat memperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu pendidikan SD/Sederajat dan SMP/Sederajat dengan persentase masing-masing 40% sedangkan persentase terendah yaitu pendidikan SMA dengan persentase 20%. Hal ini disebabkan karena masuh kurangnya pemahaman tentang pendidikan dan kurangnya sarana dan prasarana serta materi yang tidak menunjang untuk mereka bersekolah hingga SMA. Kurangnya biaya tersebut menyebabkan kebanyakan masyarakat hanya memperoleh ijazah SD atau masih banyak pula yang tidak lulus SD sama sekali. Tidak adanya budaya bersekolah untuk memajukan perekonomian keluarga, juga merupakan salah satu penyebab hal ini. Itulah pentingnya memperkenalkan sekolah sejak dini kepada masyarakat, utamanya masyarakat desa yang masih awam dengan hal tersebut.
3.         Identifikasi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata Pencaharian adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keuntungan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan/kelangsungan hidup. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10 responden, maka identifikasi responden berdasarkan mata pencaharian di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat digambarkan dalam Tabel 10.





Tabel 10. Keadaan Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Mata Pencaharian
No
Mata Pencaharian Pokok
Frekuensi
Persentase
(%)
Mata Pencaharian Sampingan
Frekuensi
Persentase (%)
1
Beternak
-
-
Beternak
9
90%
2
URT
4
40%
URT
-
-
3
Petani
4
40%
Petani
1
10%
4
Wiraswasta
1
10%
Wiraswasta
-
-
5
Lainnya
1
10%
Lainnya
-
-
JUMLAH
10
100%
JUMLAH
10
100%
Sumber: Data Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 10, mengenai keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian pokok dan mata pencaharian sampingan di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka kita dapat memperoleh bahwa pada mata pencaharian pokok, persentase tertinggi yaitu URT dan Petani dengan masing-masing persentase 40% sedangkan persentase terendah yaitu wiraswasta dan lainnya dengan persentase masing-masing 10%. Pada mata pencaharian sampingan, persentase tertiggi yaitu Peternak dengan persentase 90% sedangkan persentase terendah yaitu Petani dengan persentase 10%. Hal ini disebabkan karena keadaan geografis di Dusun Latappareng memang sangat memungkinkan untuk persawahan. Jadi sebagian besar masyarakat di Dusun Latappareng memilih untuk bekerja sebagai Petani, baik itu dari Tanah milik sendiri, tanah sewa, ataupun garapan.


4.         Identifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Gender adalah perbedaan jenis kelamin yang mengutarakan kesetaraan antara peranan perempuan atau laki-laki. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10 responden, maka identifikasi responden berdasarkan jenis kelamin di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat digambarkan dalam Tabel 11.
Tabel 11. Keadaan Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Jenis Kelamin
No
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase (%)


1
Laki-Laki
1
10%

2
Perempuan
9
90%

JUMLAH
10
100%


Sumber: Data Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 11, mengenai keadaan penduduk berdasarkan jenis kelamin di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru maka dapat diperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu perempuan dengan persentase 90% sedangkan persentase terendah yaitu laki-laki dengan persentase 10%. Hal ini dikarenakan kebanyakan laki-laki merantau keluar daerah untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga, selain itu adanya rasa tidak puas dengan apa yang ada didesanya. Sedangkan untuk perempuan, ini dikarenakan kurangnya pendidikan yang diperoleh sehingga untuk menggunakan tenaga saja untuk merantau itu sangat tidak mungkin. Inilah yang menyebabkan persentase perempuan lebih banyak di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang.
5.         Identifikasi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga
Tanggungan adalah orang yang masih dibiayai dalam suatu keluarga untuk kelangsungan/tunjangan hidup. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10 responden, maka identifikasi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat digambarkan dalam Tabel 12.
Tabel 12. Keadaan Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga.
No
Tanggungan Keluarga
Frekuensi
Persentase (%)


1
0-2
3
21,42%

2
3-5
5
35,71%

3
6-8
6
42,85%

JUMLAH
14
100%


Sumber: Data Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 12, mengenai keadaan penduduk berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru maka dapat diperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu jumlah tanggungan 6-8 orang dengan persentase 42,85% sedangkan persentase terendah yaitu jumlah tanggungan 0-2 orang dengan persentase 21,42%. Hal ini disebabkan masih kurangnya prasarana berupa posko-posko kesehatan atau sejenisnya yang memacu warga desa untuk menunda kehamilan dengan program keluarga berencana.


6.         Identifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Penghasilan
Penghasilan adalah sesuatu yang diperoleh dari pekerjaanya itu sendiri yang berupa uang. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10 responden, maka identifikasi responden berdasarkan tingkat pendidikan di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat digambarkan dalam Tabel 13.
Tabel 13. Keadaan Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan tingkat penghasilan.
No
Penghasilan
Frekuensi
Persentase (%)


1
0-1.000.000
8
80%

2
1.100.000-2.000.000
-
-

3
2.100.000-3.000.000
1
10%

4
3.100.000-4.000.000
-
-

5
4.100.000-5.000.000
-
-

6
5.100.000-6.000.000
-
-

7
6.100.000-7.000.000
-
-

8
7.100.000-8.000.000
1
10%

JUMLAH
10
100%


Sumber: Data Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah diolah, 2010.

Dari Tabel 13, mengenai keadaan penduduk berdasarkan tingkat penghasilan di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru maka dapat diperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu pada tingkat penghasilan 0-1.000.000 dengan persentase 80% sedangkan persentase terendah yaitu pada tingkat penghasilan 2.100.000-3.000.000 dan 7.100.000-8.000.000 dengan persentase masing-masing 10%. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya lahan milik sendiri yang dikelola oleh masyarakat setempat dan juga masih kurangnya penyuluhan-penyuluhan hingga hasil tani atau hasil ternak tidak dapat dipasarkan dengan baik.

II.       PEMBAHASAN
A.       MASALAH SOSIAL KELUARGA DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Masalah-masalah yang terdapat dalam usaha peternakan itik khususnya di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, adalah kurangnya pendidikan yang membuat mereka merasa asing dengan perkembangan-perkembangan teknologi yang bisa membuat usaha peternakan mereka menjadi lebih maju. Selain itu, masih kurangnya biaya untuk usaha tani maupun ternak mereka. Penyakit pada hewan ternak dan pada usaha tani juga menjadi salah satu masalah sosial dalam keluarga peternak di Dusun Latappareng ini.
       Hal ini sesuai dengan pendapat Anonime (2010), yang membagi masalah sosial itu menjadi 4 jenis faktor, yaitu antara lain :
1.         Faktor Ekonomi      : Kemiskinan, pengangguran, dan lain-lain.
2.         Faktor Budaya        : Perceraian, kenakalan remaja, dan lain-lain.
3.         Faktor Biologis       : Penyakit menular, keracunan makanan, dan lain-lain.
4.         Faktor Psikologis    : Penyakit saraf, aliran sesat, dan lain-lain.

B.        KARAKTERISTIK KELUARGA DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Karakteristik keluarga dalam usaha peternakan itik khususnya di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, yaitu selalu mencari keuntungan dari hasil yang usaha mereka, walaupun penghasilan yang didapatkan itu tidak seberapa. Yang merekka pikirkan hanyalah bagaimana meraih keuntungan yang banyak tanpa harus mengeluarkan modal yang besar untuk itu.
Hal ini dibenarkan oleh Soedjana (2007), yang mengatakan bahwa karakteristik yang dijumpai pada petani tersebut adalah melakukan usaha tani campuran dalam upaya mendapatkan keuntungan yang maksimal dan meminimalkan risiko.
Karakteristik yang lain adalah para petani dan peternak pada Dusun Latappareng ini juga sangat menjunjung tinggi tingkat solidaritas dan tidak pernah melarang ataupun mengeluarkan larangan untuk anggota keluarga lain yang ingin turut serta bekerja sama untuk membantu perekonomian keluarga. Selain beternak itik, masyarakat Dusun Latappareng ini juga ada yang sambil menggarap sawah, ataupun mengerjakan pekerjaan lain yang bisa menjadi sampingan dari pekerjaan pokok mereka yaitu bertani.
Hal ini sesuai dengan pendapat Soedjana (2007), yang menyatakan bahwa ada empat model penerapan sistem usaha tani campuran, yaitu:
1.   sistem yang dipraktekkan secara alami dan turun-temurun oleh petani setempat,
2.   sistem usaha tani tanpa melibatkan ternak,
3.   sistem usaha tani ternak,
4.   sistem usaha yang berbasis pada sumber daya lahan, tenaga kerja, dan modal.  
C.       STRUKTUR PENDAPATAN DAN PENGELUARAN DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Struktur pendapatan masyarakat di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru adalah bervariasi tergantung pada keragaman sumberdaya pertanian. Hal ini sesuai dengan pendapat Supadi dan Nurmanaf (2010) yang menyatakan bahwa struktur pendapatan masyarakat di pedesaan itu bervariasi tergantung pada keragaman sumberdaya pertanian. Keragaman sumberdaya mempengaruhi struktur pendapatan rumah tangga pedesaan. Sumber pendapatan rumah tangga di suatu lokasi erat kaitannya dengan agroekosistem lokasi tersebut. Pendapatan rumah tangga pedesaan sangat bervariasi. Variasi itu tidak hanya disebabkan oleh faktor potensi daerah, tetapi juga karakteristik rumah tangga.
Para petani maupun peternak juga mampu menghasilkan struktur pendapatan itu dari bertani maupun non-pertanian. Hal ini dibenarkan oleh Supadi dan Nurmanaf (2010) yang menyatakan bahwa secara garis besar ada dua sumber pendapatan rumah tangga pedesaan yaitu sektor pertanian dan non-pertanian. Struktur dan besarnya pendapatan dari sektor pertanian berasal dari usahatani/ternak dan berburuh tani. Sedangkan dari sektor nonpertanian berasal dari usaha nonpertanian, profesional, buruh nonpertanian dan pekerjaan lainnya di sektor nonpertanian.
D.       PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF AGAMA DAN BUDAYA
Sesuai dengan hasil survey dari beberapa warga di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, tidak ada larangan ataupun budaya-budaya semisal adat istiadat lama yang menyatakan bahwa perempuan dalam pandangan agama maupun budaya tidak diperkenankan bekerja. Hampir semua responden yang di survey menyatakan hal demikian. Tidak adanya perbedaan inilah yang biasa disebut dengan kesetaraan gender.
Para perempuan di Dusun Latappareng umumnya bekerja sampingan selain sebagai URT, juga membantu suami atau ayah atau kelularga mereka dalam mengolah sawah, ataupun ternak yang dimiliki. Tidak sedikit dari mereka yang berperan penuh dalam usaha pertanian khususnya peternakan tersebut.
Hal ini dibenarkan oleh Gunawan (2009) yang menyatakan bahwa dalam pandangan agama, wanita sama saja dengan laki-laki. Sehingga tidak perlu dan tidak benar jika ada istilah emansipasi wanita, karena emansipasi wanita itu diperlukan ketika tidak ada kesetaraan. Sementara dalam Agama Kesetaraan laki-laki dan perempuan itu sudah diakui dan dijamin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Namun satu hal yang perlu di catat, meskipun sudah sederajat dengan laki-laki, hak kaum hawa dan kaum adam tetap punya perbedaan secara fitrah.





E.        PERANAN PEREMPUAN DESA DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Tidak semua perempuan didunia yang harus terkurung dalam rumah dengan aturan tidak bekerja keras dan hanya mengerjakan pekerjaan rumah. Sama sekali tidak benar. Peranan perempuan desa pada usaha peternakan itik di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru itu sangat produktif. Kebanyakan perempuan desa membantu jalannya perekonomian keluarga. Kebanyakan dari mereka ikut membanting tulang guna mencukupi kebutuhan keluarga yang sangat kurang, bahkan tidak ada sama sekali.
Hal ini sesuai dengan pendapat Anonimh (2010), yang menyatakan bahwa perempuan pedesaan, merupakan sumber daya manusia yang cukup nyata berpartisipasi, khususnya dalam memenuhi fungsi ekonomi keluarga dan rumah tangga bersama dengan laki-laki. Perempuan di pedesaan sudah diketahui secara umum tidak hanya mengurusi rumah tangga sehari-hari saja, tetapi tenaga dan pikirannya juga terlibat dalam berbagai kegiatan usaha tani dan non usaha tani, baik yang sifatnya komersial maupun sosial. Keterlibatan perempuan di pedesaan dalam kegiatan ekonomi produktif antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi, yaitu tidak tercukupinya kebutuhan rumah tangga mereka.





F.        PERANAN PEREMPUAN KINI (MODERN) DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Dalam usaha peternakan itik di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru peranan perempuan modern juga sangat penting bagi mereka. Perempuan modern mampu memberikan motivasi dan berbagi kekreativitasan dengan mereka yang berada di desa, khususnya Dusun Latappareng yang berada di Desa Ajjakkang ini.
Motivasi yang diberikan senantiasa mampu membangun spiritual setiap masyarakat desa yang masih kurang termotivasi untuk bekerja. Motivasi ini bisa membangun masyarakat desa menjadi lebih mandiri dan lebih bisa memikirkan tujuan dan arah hidup mereka kedepannya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Nasir (2010) yang menyatakan bahwa dengan kualitas pribadi yang baik, maka perempuan akan lebih menyadari dan memahami dirinya, mampu mengarahkan dirinya, dan mewujudkan dirinya tanpa kehilangan kodratnya dan Insya Allah mampu berbicara banyak dalam membangun pembangunan pertanian bangsa ini, serta bagaimanapun tantangan era-globalisasi yang kita hadapi kita tidak  akan terlibas.






BAB V
PENUTUP



A.       KESIMPULAN
a)         Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.
b)        Sosiologi keluarga adalah ilmu yang menjelaskan hubungan antaranggota keluarga melalui suatu pendekatan teori-teori sosial. Sosiologi keluarga juga merupakan suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara anggota keluarga dan keluarga dengan struktur sosial, proses sosial dan perubahan sosial.
c)         Disorganisasi keluarga adalah pecahnya suatu unit keluarga, terputus atau retaknya peran sosial jika satu atau beberapa orang anggotanya gagal menjalankan kewajiban dan peran mereka.
d)        Struktur pendapatan pada usaha peternakan terdiri atas: (1) pendapatan dari usaha tani (on-farm income) pada lahan garapan, (2) pendapatan dari buruhtani atau jasa pertanian lainnya (off-farm income), dan (3) pendapatan dari luar sektor pertanian (nonagricultural income).
e)         Struktur pengeluaran juga merupakan indikator kesejahteraan yang sama pentingnya dengan indikator lainnya pada rumah tangga contoh.
f)         Karakteristik yang dijumpai pada petani tersebut adalah melakukan usaha tani campuran dalam upaya mendapatkan keuntungan yang maksimal dan meminimalkan risiko.
B.       SARAN
            Adapun saran yang dapat saya selaku penulis paparkan setelah melakukan praktek lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru adalah:
a.       Sebaiknya diadakan Penyuluhan-penyuluhan mengenai cara pemasaran itik dengan baik
b.      Sebaiknya diadakan juga penyuluhan-penyuluhan tentang agribisnis itik secara mendalam agar masyarakat disana bisa mengambangkan itik-itik yang mereka pelihara sekarang.
c.       Bantuan dana dari pemerintah, sebaiknya harus ada untuk membantu usaha peternakan itik mereka.












DAFTAR PUSTAKA



Adnyana, Made dan Suhaeti. 2000. Penerapan Indeks Dini Untuk Mengindentifikasi          Tingkat Pemerataan Pendapatan Dan Pengeluaran Rumah Tangga             Pedesaan.http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/udejournal        /%2810%29%20soca-oka-ritanursuhaeti-indeks%20gini%281%29.pdf.             Diakses pada tanggal 8 April 2010.

Anonima. 2010. Itik. http://ms.wikipedia.org/wiki/Itik. Diakses pada tanggal 16      Maret   2010.

______b. 2010. Budidaya Ternak Itik .http://pustaka-deptan.go.id/agritek/dkij0116.
            pdf. Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.

______c. 2010. Sosiologi. http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi. Diakses pada        tanggal 16 Maret 2010.

______d. 2010. Keluarga. http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga. Diakses pada       tanggal 16 Maret 2010.

______e. 2010. Definisi Masalah Sosial dan Macam-Macam Masalah Sosial.          http://organisasi.org/definisi-pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-macam-  masalah-sosial-dalam-masyarakat. Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.

______f. 2010. Gender (Sosial). http://id.wikipedia.org/wiki/Gender_%28sosial%29          Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.

______g . 2010. Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender. http://menegpp.go.id/aplikasi           data/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=52&I         temid=17.Diakses pada tanggal 24 Maret 2010.

______h. 2010. Karakteristik Dan Peranan Perempuan Dalam Pemberdayaan       Ekonomi. http://www.damandiri.or.id/file/idarahmychalidunhasbab115.pdf.   Diakses pada   tanggal 16 Maret 2010.

Anwar, Khoirul. 2009. Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Islam dan       Budaya. http://citizennews.suaramerdeka.com/indehx2.php?option=com_     content&do_pd=1&id=1037. Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.

Effendi, Wewen. 2007. Proposal Penelitian. http://wewenefendi.multiply.com/      journal/item/20. Diakses tanggal 8 April 2010.

Gunawan, Indra. 2009. Wanita dalam Pandangan Agama. http://bloggerindra.       blogspot.com/2009/02/wanita-dalam-pandangan-agama.html. Diakses pada             tanggal 29 Maret 2010.

Hambar, J., 2003. Tentang Jenis Kelamin : Perbedaan. http://www.gender.org.uk /about/_diffs .html. Diakses pada tanggal 24 Maret 2010.

Hesty. 2009. Wanita Modern Masa Kini. http://forumgadis.blogspot.com/2009/07/             wanita-modern-masa-kini.html. Diakses pada tanggal 29 Maret 2010

Kalla, Yusuf. 2008. Peternakan Itik. Jakarta

Nasir. 2010. Peran Perempuan dalam Meningkatkan Pembangunan Pertanian.      http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/. Diakses pada           tanggal 16 Maret 2010

Nurmanaf, Achmad dan Supadi. 2010. Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga       Pedesaan dan Kaitannya dengan Tingkat Kemiskinan. http://ejournal. unud.ac.id/abstrak/%2813%29%20soca-supadi-rozanypengel%20rt%281%29           .pdf. Diakses pada tanggal 24 Maret 2010.

Shomad, Idris. 2010. Wanita dalam Pandangan Islam Moderat. http://www.ikadi.or.         id/index.php?option=com_content&view=article&id=329&catid=59&Itemid       =125. Diakses pada tanggal 29 Maret 2010.

Soedjana, Tjeppy D. 2007. Sistem Usaha Tani Terintegrasi Tanaman-Ternak         Sebagai Respons Petani Terhadap Faktor Resiko. http://www.pustaka-   deptan.go.id/publikasi/p3262075.pdf. Diakses pada tanggal 16 Maret 2010

Soekardono. 2009. Ekonomi Agribisnis Peternakan. Akademika Pressindo. Jakarta

Suhendi, Hendi dan Wahyu. 2001. Sosiologi Keluarga. PT. Terbit Terang. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar