BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sosiologi
merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya
teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita. Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi
saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari
pengertian-pengertian umum, rasional, empiris
serta bersifat umum.
Sosiologi
keluarga adalah ilmu yang menjelaskan hubungan antaranggota keluarga melalui
suatu pendekatan teori-teori sosial. Sosiologi keluarga juga merupakan suatu
cabang sosiologi umum yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik
antara anggota keluarga dan keluarga dengan struktur sosial, proses sosial dan
perubahan sosial. Disamping membicarakan hubungan antaranggota keluarga,
sosiologi juga membicarakan keluarga secara luas, proses pembentukan keluarga
(pelamaran dan perkawinan), membina keluarga (hak dan kewajiban suami istri),
pendidikan dan pengasuhan anak, dan pengaturan harta apabila seseorang
meninggal.
Penjelasan
diatas merupakan alasan yang melatarbelakangi diadakannya Praktek Lapang
Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan Keluarga dalam
Usaha Peternakan di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
B.
Tujuan
Dan Kegunaan
Tujuan diadakannya
Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan
Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik yaitu untuk mengetahui seberapa besar
peranan keluarga khususnya perempuan dalam Usaha Peternakan di Kabupaten Barru,
serta mengetahui kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam Usaha
Peternakan Itik.
Kegunaan
dilaksanakannya Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik adalah untuk melihat dan
membandingkan teori yang diperoleh di materi perkuliahan dengan kondisi riil
yang terjadi dilapangan mengenai peranan keluarga dalam usaha peternakan itik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan
Umum Peternakan Itik
Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs. Jawa). Nenek
moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar (Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh
manusia hingga jadilah itik yang dipelihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik) (Kalla,
2008).
Itik ialah nama biasa
untuk spesies daripada famili Anatidae
dan kelas burung. Itik kebiasaannya ialah burung akuatik,
lebih kecil daripada saudaranya iaitu swan dan angsa, dan boleh ditemui di air tawar dan laut.
Itik dipelihara untuk daging atau telurnya. Di Malaysia,
negeri utama pengeluar telur itik
ialah Kedah, Perlis dan Pulau Pinang. Kebanyakan itik mempunyai paruh yang
rata dan lebar untuk menyudu. Itik makan berbagai jenis makanan seperti rumput, tumbuhan akuatik, ikan, serangga, amfibia kecil, cacing dan moluska kecil (Anonima, 2010).
Menurut Anonimb (2010), itik pada tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga)
golongan, yaitu:
1.
Itik
petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV
2000-INA;
2.
Itik
pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
3. Itik
Ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India,
Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.
Jenis bibit unggul yang diternakkan,
khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki
campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik
petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak)
Ciawi, Bogor (Anonimb, 2010).
Menurut Anonimb (2010), manfaat ternak itik
adalah :
1.
Untuk
usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
2.
Untuk
mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.
3.
Kotorannya
bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
4.
Sebagai
pengisi kegiatan dimasa pensiun.
5.
Untuk
mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.
Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang
dapat memberikan keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar
internasional sangat besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada.
Dapat dilihat bahwa baru negara Thailand dan Malaysia yang menjadi negara pengekspor terbesar.
Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanjikan untuk
dikembangkan secara intensif (Kalla, 2008).
Menurut Kalla (2008), 3 cara untuk memperoleh bibit itik
yang baik adalah :
a.
Membeli
telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya.
b.
Memelihara
induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas
kemudian meletakkannya pada mentok, ayam atau mesin tetas.
c.
Membeli
DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah
mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat. Ciri DOD (Day Old Duck)
yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.
Menurut Kalla (2008), kondisi kandang untuk peternakan
itik adalah :
1.
Temperatur
kandang ± 39 derajat Celcius.
2.
Kelembaban
berkisar antara 60-65%.
3.
Penerangan
kandang diberikan untuk memudahkan
pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian
kandang.
4.
Bahan
tidak perlu yang mahal tetapi kuat dan tahan lama.
Menurut Kalla (2008), model kandang ada 3 jenis :
a.
Kandang
untuk DOD ( Day Old Duck) pada masa stater bisa disebut juga kandang box,
dengan ukuran 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD (Day Old Duck).
b.
Kandang
Grower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan
ukuran 16-100 ekor perkelompok.
c.
Kandang
layar (untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei (satu
atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi (kelompok)
dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa (masa bertelur atau
untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter.
Bibit DOD (Day Old Duck) yang baru saja tiba dari
pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun
penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang
brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik
tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m2 mampu
menampung 50 ekor DOD (Day Old Duck), tempat pakan dan tempat minum sesuai
dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu
ditambah vitamin/mineral (Kalla, 2008).
Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi
telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama
saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada
pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5-6 ekor betina (Kalla, 2008).
Menurut Kalla (2008), pemberian pakan itik tersebut dalam
tiga fase, yaitu fase Stater (umur 0-8 minggu), fase Grower (umur 8-18 minggu),
dan fase Layar (umur 18-27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan
jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara
memberi pakan tersebut terbagi dalam 4 kelompok :
a.
Umur
0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder).
b.
Umur
16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai.
c.
Umur
21 hari sampai 18 minggu disebar di lantai.
d.
Umur
18-27 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan
memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah
itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).
Menurut Kalla (2008), dalam hal pakan itik secara ad
libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa
diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang,
bungkil feed suplemen. Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga
yaitu :
a.
Umur
0-7 hari, untuk 3 hari pertama air minum ditambah vitamin dan mineral,
tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
b.
Umur
7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad
libitum (terus menerus).
c.
Umur
28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2m x
15cm dan tingginya 10cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.
Menurut Kalla (2008), penyakit itik dikelompokkan dalam
dua hal yaitu :
1.
Penyakit
yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan protozoa.
2.
Penyakit
yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang
kurang tepat.
Menurut Kalla (2008), jenis penyakit yang biasa
terjangkit pada itik adalah:
a.
Penyakit
Duck Cholera, Gejala-gejala yang ditimbulkan : Mencret, lumpuh, tinja
kuning kehijauan. Pengendalian :
Sanitasi kandang, pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada
dengan dosis sesuai label obat.
b.
Penyakit
Salmonellosis, Penyebab : Bakteri typhimurium. Gejala : Pernafasan sesak,
mencret. Pengendalian : Sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone
melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur
air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.
Hasil utama usaha ternak itik petelur adalah telur itik.
Hasil tambahan berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan
kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga (Kalla, 2008).
Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk
mendapatkan telur tetas yang fertil atau terbuahi dengan baik oleh itik jantan,
sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan
itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami)
(Kalla, 2008).
B. Sosiologi
Secara Umum
Banyak
ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu, seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa
ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran.
Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh para pemikir di abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina,
dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang
fana, manusia
tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan
masyarakatnya. Pertanyaan dan
pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada
masa ini. Berkembangnya ilmu pengetahuan di abad pencerahan (sekitar abad ke-17 M), turut berpengaruh terhadap
pandangan mengenai perubahan masyarakat, ciri-ciri ilmiah mulai tampak di abad
ini. Para ahli di zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan
masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia (Anonimc, 2010).
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan
pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala
ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan
gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain (Anonimc,
2010).
C. Pengertian
Sosiologi Keluarga
Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang
mempelajari struktur sosial dan proses sosial serta perubahan sosial. Struktur
sosial adalah keseluruhan jalinan antarunsur sosial, meliputi kaidah sosial,
lembaga sosial, kelompok sosial, dan lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh
timbal balik antara segi kehidupan bersama, seperti pengaruh timbal balik
antara segi kehidupan ekonomi dan segi kehidupan politik. Dengan demikian,
sosiologi keluarga dapat dirumuskan bahwa suatu cabang sosiologi umum yang
mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara anggota keluarga dan
keluarga dengan struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial. Dalam
pengertian lain, sosiologi keluarga adalah ilmu yang menjelaskan hubungan
antaranggota keluarga melalui suatu pendekatan teori-teori sosial. Disamping
membicarakan hubungan antaranggota keluarga, sosiologi keluarga juga
membicarakan keluarga secara luas, proses pembentukan keluarga (pelamaran dan
perkawinan), membina keluarga (hak dan kewajiban suami istri), pendidikan dan
pengasuhan anak, dan pengaturan harta apabila eseorang meninggal (Suhendi dan
Wahyu, 2001).
Definisi diatas dapat dibedakan dengan sosiologi secara
umum. Sosiologi umum bertugas mempelajari masyarakat dalam pengertian luas maka
sosiologi keluarga bertugas menerangkan masyarakat keluarga secara khusus.
Segala perilaku dalam keluarga bukan hanya dilihat dalam konteks biologis,
psikologis atau yang lainnya, melainkan dicarikan arti sosiologinya dengan cara
meneliti hubungan-hubungannya, dan dampak yang ditimbulkan dari hubungan
tersebut (Suhendi dan Wahyu, 2001).
D. Fungsi
Dan Bentuk-Bentuk Keluarga
Setelah sebuah keluarga terbentuk, anggota keluarga yang
ada didalamnya memiliki tugas masing-masing. Suatu pekerjaan yang dilakukan
dalam keluarga dalam kehidupan keluarga inilah yang disebut fungsi. Jadi fungsi
keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan didalam atau
diluar keluarga ( Suhendi dan Wahyu, 2001).
Menurut Anonimd (2010), beberapa fungsi
keluarga adalah sebagai berikut :
1.
Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan
menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila
kelak dewasa.
2.
Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah
bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3.
Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak
dari tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa
terlindung dan merasa aman.
4.
Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif merasakan
perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan
berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu
sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5.
Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak
dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala
keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain yang mengatur
kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
6.
Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumber
kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga
bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga
dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
7.
Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus
selalu pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan
suasana yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah
dengan cara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dsb.
8.
Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk meneruskan keturunan
sebagai generasi penerus.
9.
Memberikan
kasih sayang,perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta membina
pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
Apabila membicarakan keluarga, asosiasinya langsung
tertuju pada suami istri, anak-anak mereka, dan ikatan perkawinan dan ikatan
darah. Oleh karena itu, istilah yang digunakan untuk menunjuk kelompok orang
seperti itu dinamakan konjugal famili yang menunjukkan arti keluarga dalam
kehidupan sehari-hari. Ada pula yang dinamakan dengan hubungan kerabat yang
sedarah yang didasarkan pada pertalian darah dari sejumlah orang kerabat dan
bukan didasarkan pada pertalian darah dari sejumlah orang kerabat dan bukan
didasarkan pada pertalian kehidupan suami istri. Keluarga hubungan sedarah
adalah suatu kelompok luas dari saudara sedarah dengan pasangan dan anak-anak
mereka (Suhendi dan Wahyu, 2001).
Bentuk keluarga sangat berbeda antara satu dengan
masyarakat dan masyarakat yang lainnya. Bentuk disini dapat dilihat dari jumlah
angota keluarga, yaitu keluarga batih dan keluarga luas, dilihat dari sistem
yang digunakan dalam pengaturan keluarga, dilihat dari sistem yang digunakan,
yaitu keluarga pangkal dan keluarga gabungan, dan dilihat dari segi status
individu dalam keluarga, yaitu keluarga prokreasi dan keluarga orientasi
(Suhendi dan Wahyu, 2001).
Menurut Suhendi dan Wahyu (2001), bentuk-bentuk keluarga
adalah sebagai berikut:
1.
Conjugal
Family
Conjugal Family, biasa
juga disebut dengan keluarga batih. Keluarga batih (keluarga inti) terdapat
pada masyarakat praindustri. Meskipun keluarga lain tidak lepas dari perhatian,
tekanan terletak pada hubungan antarkeluarga rumah tangga tempat dia tinggal.
Pola keluarganya berupa rumah kecil dengan sedikit anak. Tekanan yang diberikan
pada keluarga inti adalah tempat tinggal yang sama dengan dengan jumlah anggota
terbatas. Keluarga inti dibedakan dengan keluarga konjugal. Keluarga konjugal
terlihat lebih otonom, dalam arti tidak memiliki keterikatan secara ketat
dengan keluarga luas, sedangkan keluarga inti tidak memiliki otonomi karena
memiliki ikatan garis keturunan, baik patrilineal maupun matrilineal (Suhendi
dan Wahyu, 2001).
2.
Keluarga
Luas (Extended Family)
Yaitu keluarga
yang terdiri dari semua orang yang berketurunan dari kakek dan nenek yang sama
termasuk keturunan masing-masing suami dan istri. Dengan kata lain, keluarga
luas adalah keluarga batih ditambah kerabat lain yang memiliki hubungan erat
dan senantiasa dipertahankan. Sebutan keluarga yang diperluas digunakan bagi
suatu sistem yang masyarakatnya menginginkan beberapa generasi yang hidup dalam
satu atap rumah tangga. Ada beberapa keuntungan keluarga luas. Pertama,
keluarga luas banyak ditemukan di desa-desa dan bukan pada daerah industri.
Kedua, keluarga luas mampu mengumpulkan modal ekonomi secara besar (Suhendi dan
Wahyu, 2001).
3.
Keluarga
pangkal
Keluarga pangkal yaitu
sejenis keluarga yang menggunakan sistem pewarisan kekayaan pada satu anak yang
paling tua. Keluarga pangkal ini banyak terdapat di Eropa zaman feodal. Para
petani imigran AS dan di zaman Tokugawa Jepang. Pada masa tersebut seorang anak
yang paling tua bertanggung jawab terhadap adiknya yang perempuan sampai ia
menikah, begitu pula terhadap saudara laki-laki yang lainnya. Dengan demikian,
pada jenis keluarga ini pemusatan kekayaan hanya pada satu orang (Suhendi dan
Wahyu, 2001).
4.
Keluarga
Gabungan
Keluarga gabungan yaitu
keluarga yang terdiri dari orang-orang yang berhak atas milik keluarga, antara
lain saudara laki-laki pada setiap generasi. Disini, tekanannya hanya pada
saudara laki-laki karena menurut adat Hindu, anak laki-laki sejak kelahirannya
mempunyai hak atas kekayaan keluarganya (Suhendi dan Wahyu, 2001).
5.
Keluarga
Prokreasi dan Keluarga Orientasi
Keluarga prokreasi adalah
sebuah keluarga yang individunya merupakan orang tua. Adapun orientasinya
adalah keluarga yang individunya merupakan salah seorang keturunan. Ikatan
perkawinan merupakan dasar bagi terbentuknya suatu keluarga baru sebagai unit
terkecil dalam masyarakat. Namun demikian, perkawinan ini tidak dengan
sendirinya menjadi sarana bagi penerimaan anggota dalam keluarga asal
(orientasi). Hubungan suami istri dengan keluarga orientasinya sangatlah kuat
dan erat (Suhendi dan Wahyu, 2001).
E. Masalah
Sosial Dalam Keluarga
Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara
unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.
Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan
hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai
dalam keluarga dengan realitas yang ada. Adanya masalah sosial dalam keluarga
ditetapkan oleh anggota keluarga yang memiliki kewenangan khusus (Anonime,
2010).
Menurut Anonime (2010), masalah sosial dapat
dikelompokkan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yaitu antara lain :
1.
Faktor
Ekonomi : Kemiskinan,
pengangguran, dan lain-lain
2.
Faktor
Budaya : Perceraian, kenakalan
remaja, dan lain-lain
3.
Faktor
Biologis : Penyakit menular,
keracunan makanan, dan lain-lain
4.
Faktor
Psikologis : Penyakit saraf, aliran
sesat, dan lain-lain
Antara faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya
saling mempengaruhi satu sama lain. Jika masalah sosial berasal dari faktor
biologis, maka akan berdampak pula pada psikologis dan sosial budaya. Misalnya
saja : penyakit menular (Biologis) yang dialami seorang istri dapat berpengaruh
pada perceraian (Budaya) dalam keluarganya. Selain itu akan menyebabkan stress
(Psikologi) (Anonime, 2010).
F.
Karakteristik Keluarga Tani Ternak
Sistem usaha
tani terintegrasi antara tanaman dan ternak telah lama dilakukan oleh rumah
tangga petani di Indonesia, terutama di pedesaan. Umumnya rumah tangga petani
menggunakan persediaan makanannya untuk mencukupi konsumsi sendiri dan
selebihnya dijual. Karakteristik yang dijumpai pada petani tersebut adalah
melakukan usaha tani campuran dalam upaya mendapatkan keuntungan yang maksimal
dan meminimalkan risiko (Soedjana, 2007).
Menurut
Soedjana (2007), ada empat model penerapan sistem usaha tani campuran, yaitu:
1)
sistem
yang dipraktekkan secara alami dan turun-temurun oleh petani setempat,
2)
sistem
usaha tani tanpa melibatkan ternak,
3)
sistem
usaha tani ternak,
4)
sistem
usaha yang berbasis pada sumber daya lahan, tenaga kerja, dan modal.
Masing-masing
sistem usaha tani tersebut memiliki risiko dan ketidakpastian usaha di masa
yang akan datang. Beberapa risiko mendasar pada sistem usaha tani adalah risiko
produksi, risiko usaha dan finansial, serta risiko kerusakan. Dari risiko
mendasar tersebut, dengan menggunakan perhitungan sistem fungsional, usaha tani
terintegrasi tanaman-ternak mempunyai peluang risiko yang minimal (Soedjana,
2007).
G. Struktur
Pendapatan Dan Pengeluaran Keluarga Tani Ternak
Struktur
pendapatan rumah tangga di pedesaan bervariasi tergantung pada keragaman
sumberdaya pertanian. Keragaman sumberdaya mempengaruhi struktur pendapatan
rumah tangga pedesaan. Sumber pendapatan rumah tangga di suatu lokasi erat
kaitannya dengan agroekosistem lokasi tersebut. Pendapatan rumah tangga
pedesaan sangat bervariasi. Variasi itu tidak hanya disebabkan oleh faktor
potensi daerah, tetapi juga karakteristik rumah tangga. Aksesibiltias ke daerah
perkotaan yang merupakan pusat kegiatan ekonomi seringkali merupakan faktor
dominan terhadap variasi struktur pendapatan rumah tangga pedesaan. Secara
garis besar ada dua sumber pendapatan rumah tangga pedesaan yaitu sektor
pertanian dan non-pertanian. Struktur dan besarnya pendapatan dari sektor
pertanian berasal dari usahatani/ternak dan berburuh tani. Sedangkan dari
sektor nonpertanian berasal dari usaha nonpertanian, profesional, buruh
nonpertanian dan pekerjaan lainnya di sektor nonpertanian (Supadi dan Nurmanaf,
2010).
Menurut
Soekardono (2009), sebagai dasar analisis pendapatan dari suatu usaha tani,
termasuk usaha peternakan, perlu dipahami pengertian-pengertian dari berbagai
konsep pendapatan usaha tani, yaitu :
1.
Pendapatan
Kotor Usahatani
Pendapatan kotor
usahatani adalah nilai produksi total usahatani dalam jangka waktu tertentu,
baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Pendapatan kotor usahatani tanaman
dapat meliputi produk yang :
a.
Dijual
b.
Dikonsumsi
rumah tangga petani
c.
Digunakan
dalam usahatani untuk bibit atau makanan ternak
d.
Digunakan
untuk pembayaran
e.
Disimpan
atau ada di gudang pada akhir tahun
Untuk menghindari perhitungan ganda, maka semua produk
yang dihasilkan sebelum tahun pembukuan tetapi dijual atau digunakan atau masih
disimpan pada saat tahun pembukuan, tidak dimasukkan kedalam pendapatan kotor.
Pada usaha peternakan, perhitungan pendapatan kotor lebih
kompleks daripada usahatani tanaman pangan, karena variabel-variabel yang
menentukan produksi dan pendapatan usaha peternakan yang lebih kompleks. Pada
usaha petenakan dapat terjadi perubahan-perubahan yang relatif fleksibel
terhadap jumlah ternak yang dipelihara dalam satu periode pembukuan dengan
menjual atau membeli.
Pendapatan kotor usaha peternakan dalam suatu pembukuan
dapat terdiri dari:
1.
Penjualan
ternak (+)
2.
Nilai
ternak yang digunakan untuk konsumsi rumah tangga, pembayaran, upah, dan atau
hadiah (+)
3.
Nilai
ternak pada akhir tahun pembukuan (+)
4.
Nilai
hasil ternak seperti susu, telur, wool, dan kotoran ternak (+)
5.
Pembelian
ternak (-)
6.
Nilai
ternak pada awal tahun pembukuan (-)
7.
Nilai
ternak yang diperoleh dari pembayaran, upah, dan atau hadiah (-)
2.
Pendapatan
Bersih Usahatani
Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara
pendapatan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Pengeluaran total
usahatani adalah nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam
proses produksi. Untuk usaha non-komersial, tenaga kerja keluarga petani tidak
dimasukkan dalam pengeluaran. Pengeluaran mencakup pengeluaran tunai dan tidak
tunai.
3.
Penghasilan
Bersih Usahatani
Penghasilan bersih usahatani adalah selisih antara
pendapatan bersih usahatani dan bunga modal pinjaman. Dengan demikian, ukuran
ini menggambarkan penghasilan yang diperoleh dari usahatani untuk keperluan
keluarga dan merupakan imbalan terhadap semua sumberdaya yang dimiliki keluarga
yang dipakai dalam usahatani.
4.
Penghasilan
Keluarga
Penghasilan keluarga adalah jumlah dari penghasilan
bersih usahatani dan pendapatan rumah tangga yang berasal dari luar usahatani.
Sumber pendapatan diluar usahatani dapat terdiri dari dagang, buruh, industri
rumah tangga, dan sebagainya. Penghasilan ini menunjukkan tingkat kesejahteraan
keluarga petani.
5.
Imbalan
kepada Seluruh Modal
Didalam usahatani semi-komersial, imbalan kepada modal
merupakan patokan yang baik untuk penampilan suatu usaha tani. Imbalan kepada
seluruh modal dihitung dengan mengurangkan nilai kerja keluarga dari pendapatan
bersih usahatani. Nilai tenaga kerja dihitung menurut tingkat upah yang
berlaku.
6.
Imbalan
kepada Modal Petani
Imbalan kepada modal petani adalah selisih antara
penghasilan bersih usahatani dan nilai kerja keluarga. Nilai imbalan tersebut
dinyatakan dalam persen terhadap nilai modal sendiri, tidak termasuk modal
pinjaman.
7.
Imbalan
kepada Tenaga Kerja Keluarga
Imbalan kepada tenaga kerja keluarga dapat dihitung dari
penghasilan bersih usahatani dikurangi dengan bunga modal petani yang
diperhitungkan. Ukuran ini dapat dibagi dengan jumlah anggota keluarga yang bekerja
dalam usahatani untuk memperoleh taksiran imbalan kepada tiap orang.
H. Tinjauan
Umum Tentang Gender
Gender dalam sosiologi
mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial
atau identitasnya dalam masyarakat. WHO memberi batasan gender
sebagai "seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap
layak bagi laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksi secara sosial, dalam
suatu masyarakat (Anonimf, 2010).
Konsep
gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis,
walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling
dipertukarkan. Ilmu bahasa (linguistik)
juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan
kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. Banyak bahasa, yang
terkenal dari rumpun bahasa
Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab), mengenal kata benda "maskulin" dan
"feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral").
Dalam konsep gender, yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat, sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. Sebagai ilustrasi, sesuatu yang dianggap maskulin dalam
satu kebudayaan
bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri
maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan
semata-mata pada perbedaan jenis kelamin (Anonimf, 2010).
I.
Perbedaan Gender Dan Lahirnya Ketidakadilan
Laki-laki berbeda
dari perempuan yang akan tampak jelas. Mereka berbeda dalam kecerdasan,
keterampilan dan perilaku, tetapi kemudian, begitu juga setiap individu. Jadi,
mengapa kita membuat semacam ribut tentang hal itu ? Rasanya tidak masuk akal
untuk menyarankan bahwa jenis kelamin berbeda karena otak mereka berbeda,
tetapi kemudian tidak ada dua otak manusia adalah sama. Disarankan bahwa budaya
kita dalam kesulitan karena banyak wanita telah dibesarkan untuk percaya bahwa
mereka harus sama baik sebagai laki-laki (Hambar, 2003).
Kami hanya akan
menyentuh pada topik ini sebentar. Ada cukup bahan
untuk selusin buku. Cukup
dengan mengatakan bahwa semua laporan penelitian dalam perjalanan anak
laki-laki dan anak perempuan, bukan bagaimana mereka bisa menjadi seperti itu.
Atau lebih tepatnya bagaimana mereka pada saat penelitian. Kesamaan antar
budaya dan spesies mengesankan adanya dasar biologis. Kenyataan bahwa situasi
berubah mencerminkan kekuatan sosialisasi. Stereotip lain, bahwa anak perempuan
lebih ramah, lebih banyak perhatian, lebih tunduk dan memiliki harga diri
rendah, sulit untuk dipertahankan. Satu yang pasti tampaknya telah menghilang
selama dua dekade terakhir adalah bahwa anak perempuan kurang motivasi untuk
mencapai (Hambar, 2003).
Menurut Anonimg
(2010), perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan atau yang
lebih tinggi dikenal dengan perbedaan gender yang terjadi di masyarakat tidak
menjadi suatu permasalahan sepanjang perbedaan tersebut tidakmengakibatkan
diskriminasi atau ketidakadilan. Patokan atau ukuran sederhana yang dapat
digunakan untukmengukur apakah perbedaan gender itu menimbulkan ketidakadilan
atau tidak adalah sebagai berikut:
1.
Sterotype
Semua bentuk
ketidakadilan gender diatas sebenarnya berpangkal pada satu sumber kekeliruan
yang sama, yaitu stereotype gender laki-laki dan perempuan. Stereotype itu
sendiri berarti pemberian citra baku atau label/cap kepada seseorang atau
kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat.
Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya. Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain. Pelabelan negatif juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun seringkali pelabelan negatif ditimpakan kepada perempuan.
Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya. Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain. Pelabelan negatif juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun seringkali pelabelan negatif ditimpakan kepada perempuan.
Contoh :
- Perempuan dianggap cengeng, suka digoda.
- Perempuan tidak rasional, emosional.
- Perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting.
- Perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah tambahan.
- Laki-laki sebagai pencari nafkah utama.
2.
Kekerasan
Kekerasan (violence)
artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah
satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara
terhadap jenis kelamin lainnya. Peran gender telah membedakan karakter
perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin.
Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki
dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap
lembut, lemah, penurut dan sebagainya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan
pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan
kekerasan. Dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai
alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan.
Contoh :
- Kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya di dalam rumah tangga.
- Pemukulan, penyiksaan dan perkosaan yang mengakibatkan perasaan tersiksa dan tertekan.
- Pelecehan seksual.
- Eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi.
3.
Beban ganda (double burden)
Beban ganda (double
burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin
lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan
seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada
peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak
diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic. Upaya maksimal
yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada
perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan
lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak
perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.
4.
Marjinalisasi
Marjinalisasi
artinya suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang
mengakibatkan kemiskinan. Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan
seseorang atau kelompok. Salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender.
Misalnya dengan anggapan bahwa perempuan berfungsi sebagai pencari nafkah
tambahan, maka ketika mereka bekerja diluar rumah (sector public), seringkali
dinilai dengan anggapan tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka sebenarnya
telah berlangsung proses pemiskinan dengan alasan gender.
Contoh :
- Guru TK, perawat, pekerja konveksi, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dinilai sebagai pekerja rendah, sehingga berpengaruh pada tingkat gaji/upah yang diterima.
- Masih banyaknya pekerja perempuan dipabrik yang rentan terhadap PHK dikarenakan tidak mempunyai ikatan formal dari perusahaan tempat bekerja karena alasan-alasan gender, seperti sebagai pencari nafkah tambahan, pekerja sambilan dan juga alasan factor reproduksinya, seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.
- Perubahan dari sistem pertanian tradisional kepada sistem pertanian modern dengan menggunakan mesin-mesin traktor telah memarjinalkan pekerja perempuan,
5.
Subordinasi
Subordinasi
artinya suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh
satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Telah diketahui, nilai-nilai
yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran
gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan
memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam
urusan public atau produksi.
Pertanyaannya
adalah, apakah peran dan fungsi dalam urusan domestic dan reproduksi mendapat penghargaan
yang sama dengan peran publik dan produksi? Jika jawabannya “tidak sama”, maka
itu berarti peran dan fungsi public laki-laki. Sepanjang penghargaan social
terhadap peran domestic dan reproduksi berbeda dengan peran publik dan
reproduksi, sepanjang itu pula ketidakadilan masih berlangsung.
Contoh :
- Masih sedikitnya jumlah perempuan yang bekerja pada posisi atau peran pengambil keputusan atau penentu kebijakan disbanding laki-laki.
- Dalam pengupahan, perempuan yang menikah dianggap sebagai lajang, karena mendapat nafkah dari suami dan terkadang terkena potongan pajak.
- Masih sedikitnya jumlah keterwakilan perempuan dalam dunia politik (anggota legislative dan eksekutif ).
J.
Perempuan Dalam Perspektif Budaya Dan Agama
Perempuan seolah takkan pernah berhenti untuk
dibicarakan, diselami dunianya, baik yang bersifat lahiriahnya: kecantikan
maupun gaya hidup mulai dari tidur hingga bangunnya terus dikuak, maupun yang
bersifat batiniah, jiwanya: olah rasa atau hal lainnya. Perempuan memang asyik
untuk dikaji. Makhluk Tuhan yang satu ini seolah harta atau khazanah yang
mengundang decak kagum maupun sunggingan bibir yang mencoba mencemoohnya. Entah
itu perempuan sendiri, lebih-lebih pria takkan luput untuk trambul ngomong,
entah paham betul atau hanya waton ngomong, yang penting ngomong perempuan.
Meskipun tak jelas apa yang diomongkan (Anwar, 2009).
Wanita juga
merupakan makhluk yang menarik untuk dibicarakan dan dibahas. Kemenarikan
bahasan dan pembicaraan wanita nampak pada beragamnya tema-tema bahasan wanita,
dari persoalan pribadi wanita yang dapat menjadi zinah (perhiasan)
sebagaimana sebaliknya bisa menjadi fitnah (bencana), sampai persoalan peran
dan fungsi sosial wanita di luar rumah. Semuanya adalah bahasan yang
dibicarakan dalam permasalahan wanita, sejatinya dilakukan secara cermat dan
teliti, tanpa gegabah yang dapat menyebabkan kesalahan persepsi terhadap
persoalan ini. Persepsi tentang wanita yang bijak adalah persepsi yang tidak
condong kepada pengekangan terhadap wanita karena sikap-sikap yang kaku
terhadap teks-teks agama, sebaliknya tidak pula memberikan persepsi yang
liberal yang cenderung mempersepsikan kebebasan tanpa batas dan kaidah-kaidah
agama yang diangkat dan dibahas oleh para ulama (Shomad, 2010).
Dalam pandangan agama, wanita sama saja dengan laki-laki.
Sehingga tidak perlu dan tidak benar jika ada istilah emansipasi wanita, karena
emansipasi wanita itu diperlukan ketika tidak ada kesetaraan. Sementara dalam
Agama Kesetaraan laki-laki dan perempuan itu sudah diakui dan dijamin langsung
oleh Nabi Muhammad SAW. Namun satu hal yang perlu di catat, meskipun sudah
sederajat dengan laki-laki, hak kaum hawa dan kaum adam tetap punya perbedaan
secara fitrah (Gunawan, 2009).
K.
Peranan
Perempuan Desa
Wanita ideal dalam versi masyarakat tradisional adalah
menjadi bagian sistem kebudayaan kolot yang menempatkan wanita sebagai komponen
rumah tangga yang berperan sebagai "teman bagi pria". Sebagai teman,
dirinya tidak boleh menonjol, apalagi menjadi pemeran utama, yaitu pria.
Kalaupun para wanita harus mencari nafkah, itu semata karena kondisi yang
memaksa. Itu hanya sekunder. Idealnya, di mata para kaum tradisionalis, wanita
itu sebaiknya tetap di rumah, mengurus suami dan anak. Wanita tidak boleh
terlalu terpesona oleh tawaran modernisme dan kapitalisme yang dapat memberinya
peran dalam mekanisme kebudayaan tersebut (Hesty, 2009).
Perempuan pedesaan, merupakan sumber daya manusia yang
cukup nyata berpartisipasi, khususnya dalam memenuhi fungsi ekonomi keluarga
dan rumah tangga bersama dengan laki-laki. Perempuan di pedesaan sudah
diketahui secara umum tidak hanya mengurusi rumah tangga sehari-hari saja,
tetapi tenaga dan pikirannya juga terlibat dalam berbagai kegiatan usaha tani
dan non usaha tani, baik yang sifatnya komersial maupun sosial. Keterlibatan
perempuan di pedesaan dalam kegiatan ekonomi produktif antara lain dipengaruhi
oleh faktor ekonomi, yaitu tidak tercukupinya kebutuhan rumah tangga mereka.
Sebagai ibu rumah tangga, biasanya perempuan yang bertanggung jawab dalam mengatur
rumah tangga, baik menyangkut kesehatan gizi keluarga, pendidikan anak, dan
pengaturan pengeluaran biaya hidup keluarga. Ketika kebutuhan-kebutuhan
tersebut tidak tercukupi, maka perempuan yang pertama merasakan dampaknya.
Sehingga dengan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi produktif
setidaknya sebagian kebutuhan keluarga mereka terpenuhi. Demikian juga masalah
Kesenjangan gender antara laki-laki dan perempuan dalam pembangunan belum
terpikirkan oleh para pembuat keputusan di desa (Anonimh, 2010).
L.
Peranan
Perempuan Kini (Modern)
Citra
ideal wanita Indonesia
masa kini memang belum ada pembakuan yang pasti. Dengan kata lain, citra ideal
yang muncul masih sangat beragam, tumpang tindih, bahkan simpang siur. Tidak ada keseragaman dan kesepakatan konseptual ikhwal
citra ideal wanita zaman modern ini. Yang terjadi adalah bahwa para wanita
menjalani peran sosialnya secara improvisatoris. Tak jarang, mengikuti
pola-pola yang sedang dominan dan menjadi acuan banyak orang. Hal ini tentu
saja sekadar reaksi dari tiadanya pembakuan citra ideal wanita masa kini.
Semuanya serba reaktif, dan tanpa perencanaan yang jelas, untuk tidak menyebut
ngawur (Hesty, 2009).
Di kota-kota besar misalnya, peran ideal wanita yang
dibangun secara sosial adalah menjadi bagian dari peran-peran modernisasi dan
ekonomisasi. Dengan kata lain, wanita akan disebut ideal jika dia berkarier
akibat dibentuk oleh atmosfir kebudayaan kota yang dipengaruhi oleh nilai-nilai
modernisme dan kapitalisme. Hal itu jelas berbeda dengan konsepsi ideal di
kawasan kota-kota kecil atau di pedesaan. Pandangan kuno yang menyebutkan peran
wanita konco wingking (teman di belakang) masih dominan dan menjadi acuan
tunggal bagi wanita yang lahir, tumbuh, dan besar di kawasan ini. Bagi mereka,
menjadi wanita ideal adalah menjadi wanita yang tidak terlalu berpikir serius
soal pekerjaan, karier, dan sejenisnya (Hesty, 2009).
Menurut Nasir
(2010), ciri-ciri perempuan yang mempunyai kemandirian ini sangat terlihat
karena memiliki :
1.
Kompetensi diri,
2.
Konsistensi,
3.
Kreativitas,
4.
Komitmen, dan
5.
Adanya kendali diri.
Jadi dengan kualitas pribadi yang
baik, maka perempuan akan lebih menyadari dan memahami dirinya, mampu
mengarahkan dirinya, dan mewujudkan dirinya tanpa kehilangan kodratnya dan
Insya Allah mampu berbicara banyak dalam membangun pembangunan pertanian bangsa
ini, serta bagaimanapun tantangan era-globalisasi yang kita hadapi kita
tidak akan terlibas (Nasir, 2010).
Keterlibatan
perempuan modern dalam kegiatan ekonomi produktif antara lain dipengaruhi oleh
faktor ekonomi, yaitu tidak tercukupinya kebutuhan rumah tangga mereka. Sebagai
ibu rumah tangga, biasanya perempuan yang bertanggung jawab dalam mengatur
rumah tangga, baik menyangkut kesehatan gizi keluarga, pendidikan anak, dan
pengaturan pengeluaran biaya hidup keluarga. Ketika kebutuhan-kebutuhan
tersebut tidak tercukupi, maka perempuan yang pertama merasakan dampaknya. Sehingga
dengan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi produktif setidaknya
sebagian kebutuhan keluarga mereka terpenuhi. Demikian juga masalah kesenjangan
gender antara laki-laki dan perempuan dalam pembangunan belum terpikirkan oleh
para pembuat keputusan (Anonimh, 2010).
BAB III
METODE PRAKTEK LAPANG
A. Waktu
dan Tempat
Kegiatan praktek lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan
Perkotaan mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik, dilaksanakan mulai tanggal 9-11 April 2010 di Desa
Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
B. Jenis
dan Sumber Data
Jenis data yang
digunakan pada praktek lapang ini adalah :
a.
Data Kualitatif, merupakan serangkaian informasi yang digali dari hasil
penelitian masih merupakan fakta-fakta verbal, atau berupa
keterangan-keterangan saja.
b.
Data Kuantitatif, merupakan data statistik berbentuk angka-angka, baik
secara langsung digali dari hasil penelitian maupun hasil pengolahan data
kualitatif menjadi data kuantitatif.
Sumber data yang digunakan pada praktek lapang ini adalah
:
1.
Data Primer, yakni data mentah yang diperoleh peneliti dari lapagan yang dikumpulkan
dari beberapa responden. Adapun cara yang digunakan untuk mengumpulkan data
tersebut adalah dengan cara kuisioner dan wawancara dengan sejumlah pertanyaan
yang diberikan kepada responden, baik secara lisan maupun tulisan.
2.
Data Sekunder, yakni data yang bersumber dari hasil telaah dokumen, buku dan
laporan-laporan, serta kepustakaan yang terkait dengan praktek ini.
C. Metode
Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada praktek
lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan mengenai Peranan Keluarga
dalam Usaha Peternakan Itik ini adalah:
a.
Kuisioner,
yaitu metode pengumpulan data dengan cara melibatkan partisipan untuk
memperoleh informasi secara langsung dari mengisi selebaran yang berisi
pertanyaan seputar penelitian terhadap objek yang akan diamati.
b.
Observasi,
yaitu salah satu teknik operasional pengumpulan data melalui proses pencatatan
secara cermat dan sistematis terhadap objek yang diamati secara langsung.
c.
Wawancara,
yaitu metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung atau wawancara
langsung dengan responden yang akan dijadikan narasumber dalam praktek lapang
ini.
d.
Kepustakaan, yaitu pengambilan data yang diperoleh melalui buku-buku atau literatur
yang dijadikan referensi utamanya dalam praktek lapang Sosiologi Masyarakat
Pedesaan dan Perkotaan mengenai karajteristik keluarga tani ternak.
D. Konsep
Operasional
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
I.
HASIL
A.
Keadaan Umum Lokasi Praktek
1.
Batas, Letak, dan Luas Wilayah Geografis
Letak
geografis Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten
Barru, dibatasi oleh wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Balusu, Desa
Balusu
b. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kiru-Kiru
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pacekke dan
Kabupaten Soppeng
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
Secara
geografis Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten
Barru memilikii luas wilayah 2277,09 Ha, yang terdiri dari 4 dusun dan 9 RT.
2.
Potensi Desa dan Pemanfaatan Lahan
Dusun
Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru memiliki
potensi dan kekayaan yang cukup besar untuk digarap dan dimanfaatkan secara
baik, khususnya sektor pertanian. Kondisi ini terlihat dari luas wilayah desa
Ajjakkang 2277,09 Ha yang memiliki potensi sebagai berikut :
Tabel 1. Potensi
Desa dan Pemanfaatan Lahan Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten
Barru
|
No
|
Jenis Lahan
|
Luas (Ha)
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
Tanah Sawah
|
389
|
17,08%
|
|
|
2
|
Tanah Kering
|
393,5
|
17,28%
|
|
|
3
|
Tanah Basah
|
6,95
|
0,31%
|
|
|
4
|
Perkebunan
|
245,8
|
10,79%
|
|
|
5
|
Tanah Fasilitas Umum
|
-
|
0%
|
|
|
6
|
Tanah Hutan
|
1.216,54
|
53,43%
|
|
|
7
|
Lainnya
|
25,3
|
1,11%
|
|
|
JUMLAH
|
2277,09
|
100%
|
||
Sumber: Data
Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010
Berdasarkan
Tabel 1, diketahui bahwa dari 2277,09 Ha luas wilayah Dusun Latappareng, Desa
Ajjakkanng, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, tahan hutan merupakan
yang terluas yaitu sekitar 1.216,54 Ha dengan persentase 53,43%, sedangkan yang
terendah yaitu tanah fasilitas umum dengan persentase 0%. Hal ini dikarenakan keadaan
geografis Desa Ajjakkang yang dikelilingi hutan dan pegunungan sehingga
sebagian besar wilayahnya tanah hutan sedangkan untuk pemanfaatan tanah
fasilitas umum memang tidak memungkinkan untuk dilakukan di Desa Ajjakkang.
3.
Sarana dan Prasarana
a.
Sarana
Sarana adalah segala sesuatu yang yang dapat yang dipakai
sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Sarana yang terdapat di Desa Ajjakkang, Kecamatan
Soppeng Riaja, Kabupaten Barru yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat, dapat
dilihat pada Tabel 2 berikut :
Tabel 2. Jenis
Sarana yang terdapat di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten
Barru
|
No
|
Sarana
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
Transportasi Darat
|
15
|
57,69%
|
|
|
2
|
Transportasi Sungai Laut
|
3
|
11,53%
|
|
|
3
|
Kesehatan
|
8
|
30,76%
|
|
|
JUMLAH
|
26
|
100%
|
||
Sumber: Data
Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010
Dari
Tabel 2, diketahui bahwa persentase tertinggi yaitu sarana transportasi darat
dengan persentase 57,69% sedangkan untuk persentase terendah yaitu pada sarana
transportasi sungai laut dengan persentase 11,53%. Hal ini disebabkan karena
masih kurangnya perdagangan atau pemasaran hasil pertanian maupun peternakan
yang dipasarkan melalui laut atau sungai. Kebanyakan masyarakat masih
menggunakan sarana di darat untuk memasarkan hasil pertanian maupun peternakan
mereka. Selain itu, penggunaan kendaraan sungai laut masih kurang sehingga persentasenya
juga rendah.
b.
Prasarana
Prasarana adalah segala yang merupakan penunjang utama
terselenggaranya suatu proses. Prasarana yang terdapat di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja,
Kabupaten Barru yang dimanfaatkan penduduk setempat, dapat dilihat pada Tabel 3
berikut ini :
Tabel 3. Jenis
Prasarana yang terdapat di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten
Barru
|
No
|
Prasarana
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
Transportasi Darat
|
15
|
1,375%
|
|
|
2
|
Komunikasi
|
620
|
16,41%
|
|
|
3
|
Air Bersih
|
1476
|
39,07%
|
|
|
4
|
Irigasi
|
709
|
18,77%
|
|
|
5
|
Pemerintah
|
96
|
2,54%
|
|
|
6
|
Peribadatan
|
5
|
0,13%
|
|
|
7
|
Olahraga
|
4
|
0,106
|
|
|
8
|
Kesehatan
|
3
|
0,08%
|
|
|
9
|
Pendidikan
|
19
|
0,503%
|
|
|
10
|
Penerangan
|
779
|
10,62%
|
|
|
JUMLAH
|
3777
|
100%
|
||
Sumber: Data
Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 3, diketahui bahwa persentase tertinggi yaitu pada prasarana air bersih
dengan persentase 39,07% sedangkan untuk persentase terendah yaitu pada
prasarana kesehatan dengan persentase 0,08%. Hal ini disebabkan karena air
bersih telah terkoordinasi dengan baik. Sedangkan prasarana kesehatan karena
masih kurangnya pendidikan mengenai kesehatan yang dimiliki oleh masyarakat
setempat.
4.
Keadaan Penduduk
a.
Keadaan Penduduk Berdasarkan Umur
Umur
atau usia dapat diartikan sebagai satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan
suatu benda atau makhluk yang hidup maupun tak hidup. Berdasarkan data
sekunder, keadaan penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja,
Kabupaten Barru berdasarkan umur dapat digambarkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Keadaan
Penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru
berdasarkan Umur
|
No
|
Umur
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
<1
|
47
|
1,758%
|
|
|
2
|
1-10
|
556
|
20,8%
|
|
|
3
|
11-20
|
632
|
23,65%
|
|
|
4
|
21-30
|
564
|
21,1%
|
|
|
5
|
31-40
|
366
|
13,7%
|
|
|
6
|
41-50
|
318
|
11,9%
|
|
|
7
|
>50
|
189
|
7,07%
|
|
|
JUMLAH
|
2672
|
100%
|
||
Sumber: Data
Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 4, mengenai keadaan penduduk berdasarkan umur di Desa Ajjakkang,
Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka diperoleh persentase umur
tertinggi pada kisaran 11-20 tahun yaitu 23,65% sedangkan persentase umur
terendah pada kisaran <1 tahun yaitu 1,758%. Hal ini disebabkan karena pada
usia 11-20 tahun masih sanggup bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka.
b.
Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Pokok
Mata
pencaharian merupakan kegiatan yang dilakukan memenuhi kebutuhan hidup.
Berdasarkan data sekunder keadaan penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng
Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan mata pencaharian pokok digambarkan pada Tabel
5.
Tabel 5. Keadaan
Penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru
berdasarkan Mata Pencaharian Pokok
|
No
|
Mata Pencaharian
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
Petani
|
720
|
59,93%
|
|
|
2
|
Pegawai
|
125
|
19,70%
|
|
|
3
|
Buruh/Swasta
|
30
|
2,56%
|
|
|
4
|
Pegawai
Negeri
|
162
|
13,86%
|
|
|
5
|
Pedagang
|
40
|
3,42%
|
|
|
6
|
Peternak
|
50
|
4,28%
|
|
|
7
|
Nelayan
|
60
|
5,13%
|
|
|
8
|
Montir
|
1
|
0,08%
|
|
|
JUMLAH
|
1168
|
100%
|
||
Sumber: Data
Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 5, mengenai keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian pokok di Desa
Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka diperoleh persentase
tertinggi yaitu petani dengan persentase 59,93% sedangkan persentase terendah
yaitu montir dengan persentase 0,08%. Hal ini disebabkan karena lahan di daerah
ini sangat kondusif untuk digunakan sebagai lahan pertanian.
c.
Keadaan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis
Kelamin biasa disebut seks untuk istilah biologi, membagi manusia dalam 2
golongan besar yaitu pria dan wanita. Dimana pria dan wanita mempunyai
ciri-ciri yang berbeda antar keduanya dan merupakan perbedaan yang mendasar
juga bagi keduanya. Berdasarkan data sekunder, keadaan penduduk di Desa
Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan jenis kelamin
dapat digambarkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Keadaan
Penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru
berdasarkan Jenis Kelamin
|
No
|
Jenis Kelamin
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
Laki-Laki
|
1303
|
48,673%
|
|
|
2
|
Perempuan
|
1374
|
51,326%
|
|
|
JUMLAH
|
2677
|
100%
|
||
Sumber: Data
Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 6, mengenai keadaan penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa Ajjakkang,
Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka diperoleh data jenis kelamin
tertinggi yaitu pada perempuan yang frekuensinya 1374 orang dengan persentase
51,326% sedangkan data jenis kelamin terendah pada laki-laki yang frekuensinya
1303 orang dengan persentase 48,673%. Hal ini dikarenakan kebanyakan laki-laki
merantau keluar daerah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga. Untuk
perempuan, dikarenakan kurangnya pendidikan yang diperoleh sehingga
untuk menggunakan tenaga saja tidak mungkin. Inilah yang menyebabkan persentase
perempuan lebih banyak di Desa Ajjakkang.
d.
Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah suatu jenjang/tingkatan
pengajaran yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai pengetahuan/derajat
yang tinggi. Berdasarkan data sekunder mengenai keadaan penduduk di Desa
Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan tingkat
pendidikan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Keadaan
Penduduk di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru berdasarkan
Tingkat Pendidikan
|
No
|
Tingkat Pendidikan
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
Belum Sekolah
|
260
|
8,93%
|
|
|
2
|
Usia 7-15 thn
tidak pernah sekolah
|
180
|
6,18%
|
|
|
3
|
Pernah
Sekolah SD tidak tamat
|
190
|
6,52%
|
|
|
4
|
SD/Sederajat
|
723
|
24,8%
|
|
|
5
|
SLTP/Sederajat
|
486
|
16,68%
|
|
|
6
|
SLTA/Sederajat
|
620
|
21,29%
|
|
|
7
|
D-1
|
177
|
6,078%
|
|
|
8
|
D-2
|
56
|
1,923%
|
|
|
9
|
D-3
|
60
|
2,066%
|
|
|
10
|
S-1
|
160
|
5,494%
|
|
|
JUMLAH
|
2912
|
100%
|
||
Sumber: Data
Sekunder Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 7, mengenai keadaan penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa
Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka kita dapat memperoleh
bahwa persentase tertinggi yaitu hanya tamat SD/Sederajat dengan persentase
24,8% sedangkan persentase terendah yaitu D-2 dengan persentase 1,923%. Hal ini
dikarenakan tingkat kesadaran masyarakat yang masih sangat rendah serta
kurangnya dana untuk biaya pendidikan.
B.
Keadaan Khusus Lokasi Praktek
1.
Identifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Umur
Umur
merupakan satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk
yang hidup maupun tak hidup. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey
10 responden, maka identifikasi responden berdasarkan tingkat umur di Dusun
Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat
digambarkan dalam Tabel 8.
Tabel 8. Keadaan
Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja,
Kabupaten Barru berdasarkan Tingkat Umur
|
No
|
Umur
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
15-20
|
2
|
20%
|
|
|
2
|
21-25
|
-
|
-
|
|
|
3
|
26-30
|
2
|
20%
|
|
|
4
|
31-35
|
3
|
30%
|
|
|
5
|
36-40
|
-
|
-
|
|
|
6
|
41-45
|
-
|
-
|
|
|
7
|
46-50
|
-
|
-
|
|
|
8
|
51-55
|
-
|
-
|
|
|
9
|
56-60
|
1
|
10%
|
|
|
10
|
61-65
|
1
|
10%
|
|
|
11
|
66-70
|
1
|
10%
|
|
|
JUMLAH
|
10
|
100%
|
||
Sumber: Data
Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 8, mengenai keadaan penduduk berdasarkan tingkat umur di Dusun
Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka
kita dapat memperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu umur 31-35 tahun dengan
persentase 30% sedangkan persentase terendah yaitu umur 56-60, 61-65, dan 66-70
yang persentasenya masing-masing 10%. Hal ini dikarenakan faktor tenaga dari kisaran usia tersebut yang masih
mampu bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. Serta masih kurangnya
pendidikan yang membuat mereka harus bekerja keras seperti bertani atau
beternak.
2.
Identifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah suatu jenjang/tingkatan
pengajaran yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai pengetahuan/derajat
yang tinggi. Berdasarkan data
primer yang diperoleh dari survey 10 responden, maka identifikasi responden
berdasarkan tingkat pendidikan di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan
Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat digambarkan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Keadaan
Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja,
Kabupaten Barru berdasarkan Tingkat Pendidikan
|
No
|
Pendidikan
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
SD/Sederajat
|
4
|
40%
|
|
|
2
|
SMP/Sederajat
|
4
|
40%
|
|
|
3
|
SMA/Sederajat
|
2
|
20%
|
|
|
JUMLAH
|
10
|
100%
|
||
Sumber: Data
Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010
Dari
Tabel 9, mengenai keadaan penduduk berdasarkan tingkat umur di Dusun
Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, maka
kita dapat memperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu pendidikan SD/Sederajat
dan SMP/Sederajat dengan persentase masing-masing 40% sedangkan persentase
terendah yaitu pendidikan SMA dengan persentase 20%. Hal ini disebabkan karena
masuh kurangnya pemahaman tentang pendidikan dan kurangnya sarana dan prasarana
serta materi yang tidak menunjang untuk mereka bersekolah hingga SMA. Kurangnya
biaya tersebut menyebabkan kebanyakan masyarakat hanya memperoleh ijazah SD
atau masih banyak pula yang tidak lulus SD sama sekali. Tidak adanya budaya
bersekolah untuk memajukan perekonomian keluarga, juga merupakan salah satu
penyebab hal ini. Itulah pentingnya memperkenalkan sekolah sejak dini kepada
masyarakat, utamanya masyarakat desa yang masih awam dengan hal tersebut.
3.
Identifikasi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata
Pencaharian adalah kegiatan
yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keuntungan yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan/kelangsungan hidup. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10 responden,
maka identifikasi responden berdasarkan mata pencaharian di Dusun Latappareng,
Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat digambarkan
dalam Tabel 10.
Tabel 10. Keadaan
Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten
Barru berdasarkan Mata Pencaharian
|
No
|
Mata Pencaharian Pokok
|
Frekuensi
|
Persentase
(%)
|
Mata Pencaharian Sampingan
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Beternak
|
-
|
-
|
Beternak
|
9
|
90%
|
|
2
|
URT
|
4
|
40%
|
URT
|
-
|
-
|
|
3
|
Petani
|
4
|
40%
|
Petani
|
1
|
10%
|
|
4
|
Wiraswasta
|
1
|
10%
|
Wiraswasta
|
-
|
-
|
|
5
|
Lainnya
|
1
|
10%
|
Lainnya
|
-
|
-
|
|
JUMLAH
|
10
|
100%
|
JUMLAH
|
10
|
100%
|
|
Sumber: Data
Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 10, mengenai keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian pokok dan mata
pencaharian sampingan di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng
Riaja, Kabupaten Barru, maka kita dapat memperoleh bahwa pada mata pencaharian
pokok, persentase tertinggi yaitu URT dan Petani dengan masing-masing
persentase 40% sedangkan persentase terendah yaitu wiraswasta dan lainnya
dengan persentase masing-masing 10%. Pada mata pencaharian sampingan,
persentase tertiggi yaitu Peternak dengan persentase 90% sedangkan persentase
terendah yaitu Petani dengan persentase 10%. Hal ini disebabkan karena keadaan
geografis di Dusun Latappareng memang sangat memungkinkan untuk persawahan.
Jadi sebagian besar masyarakat di Dusun Latappareng memilih untuk bekerja
sebagai Petani, baik itu dari Tanah milik sendiri, tanah sewa, ataupun garapan.
4.
Identifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Gender adalah perbedaan jenis kelamin yang
mengutarakan kesetaraan antara peranan perempuan atau laki-laki. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10
responden, maka identifikasi responden berdasarkan jenis kelamin di Dusun
Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat
digambarkan dalam Tabel 11.
Tabel 11. Keadaan
Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja,
Kabupaten Barru berdasarkan Jenis Kelamin
|
No
|
Jenis Kelamin
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
Laki-Laki
|
1
|
10%
|
|
|
2
|
Perempuan
|
9
|
90%
|
|
|
JUMLAH
|
10
|
100%
|
||
Sumber: Data
Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 11, mengenai keadaan penduduk berdasarkan jenis kelamin di Dusun
Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru maka
dapat diperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu perempuan dengan persentase
90% sedangkan persentase terendah yaitu laki-laki dengan persentase 10%. Hal
ini dikarenakan kebanyakan laki-laki merantau keluar daerah untuk mencari
nafkah demi memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga, selain itu adanya rasa
tidak puas dengan apa yang ada didesanya. Sedangkan untuk perempuan, ini
dikarenakan kurangnya pendidikan yang diperoleh sehingga untuk menggunakan
tenaga saja untuk merantau itu sangat tidak mungkin. Inilah yang menyebabkan
persentase perempuan lebih banyak di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang.
5.
Identifikasi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga
Tanggungan adalah orang yang masih dibiayai dalam
suatu keluarga untuk kelangsungan/tunjangan hidup. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10
responden, maka identifikasi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga
di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru
dapat digambarkan dalam Tabel 12.
Tabel 12. Keadaan
Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja,
Kabupaten Barru berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga.
|
No
|
Tanggungan Keluarga
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
0-2
|
3
|
21,42%
|
|
|
2
|
3-5
|
5
|
35,71%
|
|
|
3
|
6-8
|
6
|
42,85%
|
|
|
JUMLAH
|
14
|
100%
|
||
Sumber: Data
Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 12, mengenai keadaan penduduk berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di
Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru
maka dapat diperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu jumlah tanggungan 6-8
orang dengan persentase 42,85% sedangkan persentase terendah yaitu jumlah
tanggungan 0-2 orang dengan persentase 21,42%. Hal ini disebabkan masih
kurangnya prasarana berupa posko-posko kesehatan atau sejenisnya yang memacu
warga desa untuk menunda kehamilan dengan program keluarga berencana.
6.
Identifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Penghasilan
Penghasilan adalah sesuatu yang diperoleh dari
pekerjaanya itu sendiri yang berupa uang. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari survey 10
responden, maka identifikasi responden berdasarkan tingkat pendidikan di Dusun
Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru dapat
digambarkan dalam Tabel 13.
Tabel 13. Keadaan
Penduduk di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja,
Kabupaten Barru berdasarkan tingkat penghasilan.
|
No
|
Penghasilan
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
|
|
1
|
0-1.000.000
|
8
|
80%
|
|
|
2
|
1.100.000-2.000.000
|
-
|
-
|
|
|
3
|
2.100.000-3.000.000
|
1
|
10%
|
|
|
4
|
3.100.000-4.000.000
|
-
|
-
|
|
|
5
|
4.100.000-5.000.000
|
-
|
-
|
|
|
6
|
5.100.000-6.000.000
|
-
|
-
|
|
|
7
|
6.100.000-7.000.000
|
-
|
-
|
|
|
8
|
7.100.000-8.000.000
|
1
|
10%
|
|
|
JUMLAH
|
10
|
100%
|
||
Sumber: Data
Primer Praktek Lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan yang telah
diolah, 2010.
Dari
Tabel 13, mengenai keadaan penduduk berdasarkan tingkat penghasilan di Dusun
Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru maka
dapat diperoleh bahwa persentase tertinggi yaitu pada tingkat penghasilan
0-1.000.000 dengan persentase 80% sedangkan persentase terendah yaitu pada
tingkat penghasilan 2.100.000-3.000.000 dan 7.100.000-8.000.000 dengan
persentase masing-masing 10%. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya lahan
milik sendiri yang dikelola oleh masyarakat setempat dan juga masih kurangnya
penyuluhan-penyuluhan hingga hasil tani atau hasil ternak tidak dapat
dipasarkan dengan baik.
II. PEMBAHASAN
A. MASALAH SOSIAL KELUARGA DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Masalah-masalah
yang terdapat dalam usaha peternakan itik khususnya di Dusun Latappareng, Desa
Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, adalah kurangnya
pendidikan yang membuat mereka merasa asing dengan perkembangan-perkembangan
teknologi yang bisa membuat usaha peternakan mereka menjadi lebih maju. Selain
itu, masih kurangnya biaya untuk usaha tani maupun ternak mereka. Penyakit pada
hewan ternak dan pada usaha tani juga menjadi salah satu masalah sosial dalam
keluarga peternak di Dusun Latappareng ini.
Hal ini
sesuai dengan pendapat Anonime (2010), yang membagi masalah sosial
itu menjadi 4 jenis faktor, yaitu antara lain :
1.
Faktor
Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran,
dan lain-lain.
2.
Faktor
Budaya : Perceraian, kenakalan
remaja, dan lain-lain.
3.
Faktor
Biologis : Penyakit menular,
keracunan makanan, dan lain-lain.
4.
Faktor
Psikologis : Penyakit saraf, aliran
sesat, dan lain-lain.
B.
KARAKTERISTIK
KELUARGA DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Karakteristik
keluarga dalam usaha peternakan itik khususnya di Dusun Latappareng, Desa
Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, yaitu selalu mencari
keuntungan dari hasil yang usaha mereka, walaupun penghasilan yang didapatkan
itu tidak seberapa. Yang merekka pikirkan hanyalah bagaimana meraih keuntungan
yang banyak tanpa harus mengeluarkan modal yang besar untuk itu.
Hal ini
dibenarkan oleh Soedjana (2007), yang mengatakan bahwa karakteristik yang
dijumpai pada petani tersebut adalah melakukan usaha tani campuran dalam upaya
mendapatkan keuntungan yang maksimal dan meminimalkan risiko.
Karakteristik
yang lain adalah para petani dan peternak pada Dusun Latappareng ini juga
sangat menjunjung tinggi tingkat solidaritas dan tidak pernah melarang ataupun
mengeluarkan larangan untuk anggota keluarga lain yang ingin turut serta
bekerja sama untuk membantu perekonomian keluarga. Selain beternak itik,
masyarakat Dusun Latappareng ini juga ada yang sambil menggarap sawah, ataupun
mengerjakan pekerjaan lain yang bisa menjadi sampingan dari pekerjaan pokok
mereka yaitu bertani.
Hal ini sesuai
dengan pendapat Soedjana (2007), yang
menyatakan bahwa ada empat model penerapan sistem usaha tani campuran, yaitu:
1. sistem yang
dipraktekkan secara alami dan turun-temurun oleh petani setempat,
2. sistem usaha
tani tanpa melibatkan ternak,
3. sistem usaha
tani ternak,
4. sistem usaha yang berbasis pada sumber daya
lahan, tenaga kerja, dan modal.
C. STRUKTUR PENDAPATAN DAN PENGELUARAN DALAM USAHA
PETERNAKAN ITIK
Struktur
pendapatan masyarakat di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng
Riaja, Kabupaten Barru adalah bervariasi tergantung pada keragaman sumberdaya
pertanian. Hal ini sesuai dengan pendapat Supadi dan Nurmanaf (2010) yang
menyatakan bahwa struktur pendapatan masyarakat di pedesaan itu bervariasi
tergantung pada keragaman sumberdaya pertanian. Keragaman sumberdaya
mempengaruhi struktur pendapatan rumah tangga pedesaan. Sumber pendapatan rumah tangga di suatu lokasi erat
kaitannya dengan agroekosistem lokasi tersebut. Pendapatan rumah tangga
pedesaan sangat bervariasi. Variasi itu tidak hanya disebabkan oleh faktor
potensi daerah, tetapi juga karakteristik rumah tangga.
Para
petani maupun peternak juga mampu menghasilkan struktur pendapatan itu dari
bertani maupun non-pertanian. Hal ini dibenarkan oleh Supadi dan Nurmanaf
(2010) yang menyatakan bahwa secara garis besar ada dua sumber pendapatan rumah
tangga pedesaan yaitu sektor pertanian dan non-pertanian. Struktur dan besarnya
pendapatan dari sektor pertanian berasal dari usahatani/ternak dan berburuh
tani. Sedangkan dari sektor nonpertanian berasal dari usaha nonpertanian,
profesional, buruh nonpertanian dan pekerjaan lainnya di sektor nonpertanian.
D. PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF AGAMA DAN BUDAYA
Sesuai
dengan hasil survey dari beberapa warga di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang,
Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, tidak ada larangan ataupun
budaya-budaya semisal adat istiadat lama yang menyatakan bahwa perempuan dalam
pandangan agama maupun budaya tidak diperkenankan bekerja. Hampir semua
responden yang di survey menyatakan hal demikian. Tidak adanya perbedaan inilah
yang biasa disebut dengan kesetaraan gender.
Para
perempuan di Dusun Latappareng umumnya bekerja sampingan selain sebagai URT,
juga membantu suami atau ayah atau kelularga mereka dalam mengolah sawah,
ataupun ternak yang dimiliki. Tidak sedikit dari mereka yang berperan penuh
dalam usaha pertanian khususnya peternakan tersebut.
Hal
ini dibenarkan oleh Gunawan (2009) yang menyatakan bahwa dalam pandangan agama, wanita sama saja dengan laki-laki.
Sehingga tidak perlu dan tidak benar jika ada istilah emansipasi wanita, karena
emansipasi wanita itu diperlukan ketika tidak ada kesetaraan. Sementara dalam
Agama Kesetaraan laki-laki dan perempuan itu sudah diakui dan dijamin langsung
oleh Nabi Muhammad SAW. Namun satu hal yang perlu di catat, meskipun sudah
sederajat dengan laki-laki, hak kaum hawa dan kaum adam tetap punya perbedaan
secara fitrah.
E.
PERANAN
PEREMPUAN DESA DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Tidak
semua perempuan didunia yang harus terkurung dalam rumah dengan aturan tidak
bekerja keras dan hanya mengerjakan pekerjaan rumah. Sama sekali tidak benar.
Peranan perempuan desa pada usaha peternakan itik di Dusun Latappareng, Desa
Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru itu sangat produktif.
Kebanyakan perempuan desa membantu jalannya perekonomian keluarga. Kebanyakan
dari mereka ikut membanting tulang guna mencukupi kebutuhan keluarga yang
sangat kurang, bahkan tidak ada sama sekali.
Hal
ini sesuai dengan pendapat Anonimh (2010), yang
menyatakan bahwa perempuan
pedesaan, merupakan sumber daya manusia yang cukup nyata berpartisipasi,
khususnya dalam memenuhi fungsi ekonomi keluarga dan rumah tangga bersama
dengan laki-laki. Perempuan di pedesaan sudah diketahui secara umum tidak hanya
mengurusi rumah tangga sehari-hari saja, tetapi tenaga dan pikirannya juga
terlibat dalam berbagai kegiatan usaha tani dan non usaha tani, baik yang
sifatnya komersial maupun sosial. Keterlibatan perempuan di pedesaan
dalam kegiatan ekonomi produktif antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi,
yaitu tidak tercukupinya kebutuhan rumah tangga mereka.
F.
PERANAN
PEREMPUAN KINI (MODERN) DALAM USAHA PETERNAKAN ITIK
Dalam
usaha peternakan itik di Dusun Latappareng, Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng
Riaja, Kabupaten Barru peranan perempuan modern juga sangat penting bagi
mereka. Perempuan modern mampu memberikan motivasi dan berbagi kekreativitasan
dengan mereka yang berada di desa, khususnya Dusun Latappareng yang berada di
Desa Ajjakkang ini.
Motivasi
yang diberikan senantiasa mampu membangun spiritual setiap masyarakat desa yang
masih kurang termotivasi untuk bekerja. Motivasi ini bisa membangun masyarakat
desa menjadi lebih mandiri dan lebih bisa memikirkan tujuan dan arah hidup
mereka kedepannya.
Hal
ini sesuai dengan pendapat Nasir (2010) yang menyatakan bahwa dengan kualitas
pribadi yang baik, maka perempuan akan lebih menyadari dan memahami dirinya,
mampu mengarahkan dirinya, dan mewujudkan dirinya tanpa kehilangan kodratnya
dan Insya Allah mampu berbicara banyak dalam membangun pembangunan pertanian
bangsa ini, serta bagaimanapun tantangan era-globalisasi yang kita hadapi kita
tidak akan terlibas.
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
a)
Sosiologi
adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya
pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari
pengertian-pengertian umum, rasional, empiris
serta bersifat umum.
b)
Sosiologi
keluarga adalah ilmu yang menjelaskan hubungan antaranggota keluarga melalui
suatu pendekatan teori-teori sosial. Sosiologi keluarga juga merupakan suatu
cabang sosiologi umum yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik
antara anggota keluarga dan keluarga dengan struktur sosial, proses sosial dan
perubahan sosial.
c)
Disorganisasi
keluarga adalah pecahnya suatu unit keluarga, terputus atau retaknya peran
sosial jika satu atau beberapa orang anggotanya gagal menjalankan kewajiban dan
peran mereka.
d)
Struktur
pendapatan pada usaha peternakan terdiri atas: (1) pendapatan dari usaha tani (on-farm
income) pada lahan garapan, (2) pendapatan dari buruhtani atau jasa
pertanian lainnya (off-farm income), dan (3) pendapatan dari luar sektor
pertanian (nonagricultural income).
e)
Struktur
pengeluaran juga merupakan indikator kesejahteraan yang sama pentingnya
dengan indikator lainnya pada rumah tangga contoh.
f)
Karakteristik
yang dijumpai pada petani tersebut adalah melakukan usaha tani campuran dalam
upaya mendapatkan keuntungan yang maksimal dan meminimalkan risiko.
B.
SARAN
Adapun saran yang dapat saya selaku penulis paparkan
setelah melakukan praktek lapang Sosiologi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
mengenai Peranan Keluarga dalam Usaha Peternakan Itik di Dusun Latappareng,
Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru adalah:
a.
Sebaiknya
diadakan Penyuluhan-penyuluhan mengenai cara pemasaran itik dengan baik
b.
Sebaiknya
diadakan juga penyuluhan-penyuluhan tentang agribisnis itik secara mendalam
agar masyarakat disana bisa mengambangkan itik-itik yang mereka pelihara
sekarang.
c.
Bantuan
dana dari pemerintah, sebaiknya harus ada untuk membantu usaha peternakan itik
mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana,
Made dan Suhaeti. 2000. Penerapan Indeks Dini Untuk Mengindentifikasi Tingkat Pemerataan Pendapatan Dan Pengeluaran Rumah Tangga Pedesaan.http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/udejournal /%2810%29%20soca-oka-ritanursuhaeti-indeks%20gini%281%29.pdf.
Diakses pada tanggal 8 April
2010.
Anonima. 2010. Itik. http://ms.wikipedia.org/wiki/Itik.
Diakses pada tanggal 16 Maret
2010.
______b.
2010. Budidaya Ternak Itik .http://pustaka-deptan.go.id/agritek/dkij0116.
pdf. Diakses pada tanggal 16 Maret
2010.
______c.
2010. Sosiologi. http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi.
Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.
______d.
2010. Keluarga. http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga.
Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.
______e.
2010. Definisi Masalah Sosial dan
Macam-Macam Masalah Sosial. http://organisasi.org/definisi-pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-macam- masalah-sosial-dalam-masyarakat.
Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.
______f. 2010. Gender
(Sosial). http://id.wikipedia.org/wiki/Gender_%28sosial%29 Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.
______g . 2010. Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender. http://menegpp.go.id/aplikasi data/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=52&I temid=17.Diakses pada tanggal 24 Maret
2010.
______h. 2010. Karakteristik Dan Peranan Perempuan Dalam
Pemberdayaan Ekonomi. http://www.damandiri.or.id/file/idarahmychalidunhasbab115.pdf.
Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.
Anwar,
Khoirul. 2009. Kepemimpinan Perempuan
dalam Perspektif Islam dan Budaya.
http://citizennews.suaramerdeka.com/indehx2.php?option=com_
content&do_pd=1&id=1037.
Diakses pada tanggal 16 Maret 2010.
Effendi,
Wewen. 2007. Proposal Penelitian. http://wewenefendi.multiply.com/
journal/item/20. Diakses
tanggal 8 April 2010.
Gunawan, Indra.
2009. Wanita dalam Pandangan Agama. http://bloggerindra. blogspot.com/2009/02/wanita-dalam-pandangan-agama.html.
Diakses pada tanggal 29 Maret
2010.
Hambar, J., 2003. Tentang
Jenis Kelamin : Perbedaan. http://www.gender.org.uk /about/_diffs .html. Diakses pada tanggal 24 Maret 2010.
Hesty. 2009.
Wanita Modern Masa Kini. http://forumgadis.blogspot.com/2009/07/
wanita-modern-masa-kini.html.
Diakses pada tanggal 29 Maret 2010
Kalla,
Yusuf. 2008. Peternakan Itik. Jakarta
Nasir. 2010.
Peran Perempuan dalam Meningkatkan
Pembangunan Pertanian. http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/.
Diakses pada tanggal 16 Maret
2010
Nurmanaf,
Achmad dan Supadi. 2010. Pendapatan dan
Pengeluaran Rumah Tangga Pedesaan
dan Kaitannya dengan Tingkat Kemiskinan. http://ejournal. unud.ac.id/abstrak/%2813%29%20soca-supadi-rozanypengel%20rt%281%29 .pdf. Diakses pada tanggal 24 Maret 2010.
Shomad,
Idris. 2010. Wanita dalam Pandangan Islam
Moderat. http://www.ikadi.or. id/index.php?option=com_content&view=article&id=329&catid=59&Itemid =125. Diakses pada tanggal 29 Maret 2010.
Soedjana,
Tjeppy D. 2007. Sistem Usaha Tani
Terintegrasi Tanaman-Ternak Sebagai
Respons Petani Terhadap Faktor Resiko. http://www.pustaka- deptan.go.id/publikasi/p3262075.pdf.
Diakses pada tanggal 16 Maret 2010
Soekardono.
2009. Ekonomi Agribisnis Peternakan.
Akademika Pressindo. Jakarta
Suhendi,
Hendi dan Wahyu. 2001. Sosiologi Keluarga.
PT. Terbit Terang. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar